Meningkatkan Sistem Antibodi Bersama Kuning

  • Whatsapp
Kuning yang sedang dalam proses pengeringan ( Dok.Kompasiana)

Indonesia adalah sebagai zamrud khatulistiwa, negeri yang gemah ripah loh jinawi, tanam tongkat pun jadi tanaman. Suburnya alam, juga melahirkan kearifan lokal dalam bidang medis. Rempah melimpah di setiap jengkal bumi Nusantara adalah kekayaan yang tak ternilai harganya.

Dalam meningkatkan sistem antibodi (kekebalan tubuh) atau disebut sebagai imunitas, bahan baku yang terhidang tanpa batas tersebut menjadi alternatif turun temurun.

Bacaan Lainnya

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara, Dr. dr. Umar Zein DTM&H Sp.PD KPTI mengakui, kearifan lokal di kalangan etnis Sumatera Utara cukup beragam, baik dalam bentuk, khasiat serta ketersediaannya.

Hasil surveynya membuktikan manfaat kearifan lokal dibidang herbalis ini digunakan masyarakat turun temurun. Dalam penelitiannya, misalnya minyak Karo, kuning, suntil tembakau , oukup dan sirih sangat dikenal khasiatnya sebagai antiseptik.

Pengalaman empirik masyarakat dalam meningkatkan imunitas dan memutus mata rantai virus menurut Dr. dr. Umar Zein DTM&H Sp.PD KPTI, memang masih diperlukan uji klinis.

” Kita apresiasi sikap masyarakat yang setia, hidup dengan kearifan lokal guna imunitasnya apalagi diyakini tumbuhan ini mampu menolak penyebaran virus,” ujarnya.

Saat pandemi COVID -19 imun yang kuat, membuat tubuh akan lebih mampu melawan virus dengan cara memproduksi protein bernama antibodi. Sistem imun yang dimiliki tubuh sebenarnya mampu melindungi tubuh dari virus namun selalu berkaitan dengan pola kehidupan yang dipilih.

Ada yang memilih peningkatan sistem antibodi dengan mengonsumsi vitamin, suplemen, olahraga, makanan bergizi dan menjauhkan diri dari beban psikologis. Namun tak dapat dipandang sebelah mata , masyarakat juga memanfaatkan kearifan lokal sebagai alternatif.

Saat membuka Pekan Kebudayaan Nasional Tahun 2020, Sabtu, akhir Oktober 2020 Presiden Joko Widodo menuturkan, ketika menghadapi pandemi COVID – 19, memori budaya masyarakat tangguh bencana kembali hidup.

Kuning melas (hangat) dan Kuning mbergeh (sejuk) yang diproduksi minyakkaro.laucih

Sikap optimistis dan pantang menyerah bangsa memang terbentuk dari alam dan kondisi geografis Nusantara. Masyarakat berupaya menghidupkan kearifan lokal dengan memanfaatkan kekayaan hayati alam dan mengolahnya menjadi jamu – jamu tradisional untuk meningkatkan imunitas tubuh.

Langkah sederhana serta berkeyakinan kuat dengan memilih tradisi kearifan lokal bernama Kuning. Kuning adalah obat sekelas herbalis yang dikenal di kalangan warga Karo dimana pun berada. Fungsinya dapat meningkatkan imunitas tubuh dengan mengonsumsinya dari dalam dan dilulurkan pada tubuh bagian luar.

Kuning adalah obat tradisional Karo yang terbuat dari campuran rempah – rempah dan tepung beras. Kuning berbahan tumbuhan – tumbuhan, biji buah – buahan dan dedaunan ditambahkan dengan tepung beras, difermentasi, dibentuk mirip penganan biskuit.

Kuning yang berwarna putih ini digunakan sebagai lulur di sekujur tubuh atau dimakan. Khasiatnya cukup menghangatkan tubuh dan dipercaya mampu menolak semua virus di sekitar pemakainya.

Berdasarkan informasi dari Hieronimus S. Meliala M.Kes, bahwa terdapat 15 jenis tumbuhan, 12 genus dari 9 famili yang digunakan sebagai ramuan Kuning dan dominan dari famili zingiberaceae.

Nande – nande ( kaum ibu dalam bahasa daerah Karo ) percaya, virus Corona hancur kalau mengendus aroma Kuning.” Mirip dengan disinfektan, luluran Kuning di tubuh dipercaya dapat mengusir virus, ” ujar Kartini Sembiring, Nakes RSUD Kaban Jahe, yang ditemui kemarin.

Secara umum, masyarakat mungkin sudah sangat akrab dengan sebutan parem. Kuning pada warga Karo bisa juga disebut sebagai parem.

Menjaga pola hidup menjadi sangat penting agar tetap sehat dan menjaga sistem imunitas dalam kondisi pandemi COVID – 19. Seiring dengan tingkat kesadaran masyarakat akan kesehatan, penggunaan obat yang berasal dari tumbuhan atau pengobatan dengan cara tradisional lebih digemari demi menjaga imunitas tubuh, karena relatif lebih murah, mudah didapat dan minim efek samping dibandingkan dengan menggunakan obat-obat modern atau obat-obatan dari bahan kimia.

World Health Organization (WHO) juga telah merekomendasi penggunaan obat tradisional termasuk obat herbal dalam pemeliharaan kesehatan masyarakat.

Penyintas COVID-19, dr.Susi Evanta Sembiring mengaku aktif menyuarakan protokol kesehatan (Prokes) dan meningkatkan imunitas tubuh dengan mengonsumsi kearifan lokal di bidang medis .

” Kita sering mendengar manfaat Kuning untuk kesehatan dan memang tidak diragukan lagi. Kuning bukanlah satu-satunya produk kearifan lokal, tapi masih ada yang lain. Misalnya propolis, obat herbal yang mampu meningkatkan antibodi, ” ujarnya.

Susi Evanta Sembiring meyakini dengan mengonsumsi Kuning dan propolis yang merupakan alternatif membantu meningkatkan sistem imun serta komponen tumbuhan yang memiliki sifat sebagai bahan-bahan antijamur, antibakteri, antivirus, antioksidan dan anti-inflamasi yang berkualitas tinggi.

Sikap yang diyakini sebagai alternatif untuk meningkatkan kualitas kesehatan khususnya imunitas sangat didukung warga Sumatera Utara. Bahan – bahan kesehatan dan sikap hidup pemakainya sudah kadung terjalin sejak lama. Pengalaman hidup mereka membuktikan itu. Sehingga tidak ada lagi keraguan mereka dalam menggunakannya.

Meski demikian, kearifan lokal tidak mutlak berkemampuan dalam menghadapi kualitas virus yang dihadapinya. Artinya, pengalaman empirik yang ada selama ini tidak selamanya digdaya.

Protokol kesehatan (Prokes) dengan menyuci tangan dengan sabun, memakai masker, menjaga jarak dalam keramaian, mengurangi mobilitas serta menjauhi kerumunan tetap menjadi keniscayaan.

Imunitas tubuh boleh diupayakan dengan beragam kearifan lokal, namun Prokes cara ampuh dalam memutuskan mata rantai penyebaran COVID-19.*jendaingetanbangun.

Pos terkait