Pengungsi Afganistan di Bank CIMB Dibubarkan Tim Gabungan

  • Whatsapp

transbisnis.com | Medan -Tim gabungan yang terdiri dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Medan, Polri.

Dan Kecamatan melakukan penggusuran terhadap pengungsi Suku Hazarah, Afganistan di depan Bank CIMB Niaga, Kecamatan Medan Petisah, Kamis (18/11).

Sekretaris Satpol PP Kota Medan, Rakhmat Adi Syahputra Harahap, mengatakan bahwa penertiban yang dilakukan hari ini sesuai dengan peraturan PPKM level II.

“Jadi dengan Medan status level II sekarang in, kita tak bolehkan ada pengumpulan masa sampai berlama-lama,” tegasnya.

Selain peraturan PPKM level II, lanjut Rakhmat, fasilitas yang ditempati para pengungsi untuk mendirikan tenda merupakan fasilitas umum.

“Bahwa ini adalah fasilitas umum taman yang harus kita kembalikan. Kita juga tidak menginginkan dengan berkumpulnya disini, sampah sedemikian menimbulkan masalah baru,” ungkapnya.

Rakhmat juga menegaskan kalau pihaknya siap untuk membantu pengungsi yang ingin bantuan untuk mengantar ke kamp yang baru.

“Jadi kita sudah mengingatkan, dan juga sosialisasi dari beberapa waktu yang lalu. Kita juga fasilitasi, kalau mereka butuh untuk di antar ke kamp kita siap, dengan bantuan angkutan kita untuk kita antarkan,” pungkasnya.

Berdasarkan pantauan tiga mobil Satpol-PP turun untuk menertibkan pengungsi Afganistan tersebut.

Aksi nginap ditenda ini sudah dilakukan sudah berjalan seminggu.

Muhammad Zuma, salah seorang pengungsi, mengaku aksi tersebut mereka lakukan untuk meminta perhatian dunia internasional agar membantu menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi.

Zuma menceritakan, mereka adalah para pengungsi dari Suku Hazara di Provinsi Ghazni, Afghanistan. Mereka menjadi salah satu suku yang diburu oleh kaum Taliban karena dituduh sebagai teroris.

“Kami meminta agar komunitas internasional menelepon PBB dan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani untuk menghentikan pembunuhan terhadap suku kami,” kata Muhammad Zuma.

Zuma menjelaskan, ratusan pengungsi Afghanistan yang berunjuk rasa hari ini merupakan pengungsi yang sudah tinggal di Indonesia sekitar 5 hingga 7 tahun. Selama proses tersebut, mereka menuggu proses pengiriman ke negara penampung seperti Amerika, Kanada, Australia dan New Zealand oleh pihak United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) selaku badan PBB yang menangani persoalan pengungsi internasional.

“Saat ini, kami resah, karena UNHCR mengaku sudah menghentikan proses pengiriman kami. Kami bingung mau kemana, kami juga manusia yang berhak untuk tinggal di dunia ini,” ujarnya.

Hal yang sama disampaikan salah seorang pengungsi Afghanistan lainnya Yassin. Menurutnya, saat ini aksi pembunuhan terhadap suku Hazara masih terus terjadi, dan membuat beberapa keluarga mereka disana juga terpaksa melarikan diri untuk menghindari pembantaian.

“Yang kami dapat kabar, saat ini keluarga kami disana ada yang lari dan tinggal di gunung. Padahal, saat ini sedang musim dingin di negara kami. Kami berharap komunitas dunia internasional dapat memberikan perhatiannya kepada kami,” ujarnya.

Dalam aksi unjuk rasa ini, para pengungsi Afghanistan memampangkan berbagai poster dan spanduk bergambar kasus-kasus kekerasan yang terjadi di negara mereka. Mereka berharap persoalan kekerasan ini segera diselesaikan.

 

Pos terkait