Terkait Penanganan Kasus di Luwu Timur, Polri Pastikan Cari Bukti Baru

  • Whatsapp
Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Pol Ahmad Ramadhan,

transbisnis.com | JAKARTA – Terkait penanganan kasus dugaan pencabulan atau pemerkosaan tiga anak oleh ayah kandung, Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Polisi memastikan akan proaktif mencari novum atau bukti baru dalam perkara itu.

Bahkan Polri, tidak akan menunggu hingga ada pihak yang memberikan bukti baru.

Bacaan Lainnya

“Tentu Polri tidak menunggu. Polri dalam hal ini Polres Luwu Timur dibantu Polda Sulawesi Selatan terus menggali kasus yang sebenarnya. Ini kan karena dilaporkan, kemudian kami ingin mencari bukti baru atau novum. Ketika ada novum yang mendukung atau memenuhi unsur tindak pidana, tentu kami akan proses lanjut. Jadi kami tidak hanya menunggu, tapi Polres Luwu Timur dan Polda Sulawesi Selatan juga bekerja secara aktif untuk mengungkap kasus ini,” ujar Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Pol Ahmad Ramadhan, di Mabes Polri, Senin (11/10/2021) sore.

Ramadhan, mengatakan saat ini Bareskrim Polri telah mengirim tim asistensi yang dipimpin Kombes Pol Helfi Assegaf untuk membantu penanganan kasus tersebut.

Namun demikian, ia juga menekankan, pihaknya terbuka menerima data, informasi dan bukti baru dari pihak manapun.

“Tentunya kita terbuka kepada siapapun, termasuk LBH yang ingin memberikan data dan memberikan bukti demi kelancaran kasus penyidikan ini. Jadi kasus ini masih terus ditangani,” ungkapnya.

Ramadhan memastikan, jajaran kepolisian tidak mengahadapi kendala berarti dalam penanganan kasus ini. Polri akan bekerja mengungkap kasus yang sebelumnya telah dihentikan karena tidak cukup bukti ini.

“Tidak ada kendala. Kami terus melakukan proses penyelidikannya. Sekali lagi ketika pihak LBH yang mengatakan memiliki bukti, kami bisa bekerja sama dengan baik. Tujuannya sama untuk mengungkap kebenaran kasus ini. Sampai saat ini belum (menerima bukti baru dari LBH). Jadi kami terus, sekali lagi akan berkoordinasi,” katanya.

Menyoal munculnya tagar percuma lapor polisi terkait kasus ini, dan apakah hal itu akan menjadi momentum Polri untuk reformasi institusi, Ramadhan menyampaikan, Polri tidak akan mengkhianati tugas pokoknya sesuai Pasal 13 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2020 tentang Kepolisian Republik Indonesia.

Tugas Polri bukan hanya penegakan hukum, tetapi juga memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, serta melindungi dan mengayomi masyarakat.

“Dari tugas pokok ini tentunya tidak hanya melakukan penegakan hukum saja, tetapi juga mengayomi masyarakat, melindungi masyarakat dalam rangka penegakan hukum itu sendiri. Tentunya keluhan-keluhan apapun persoalan polemik di masyarakat akan direspon oleh Polri. Sekaligus kritik-kritik yang sifatnya membangun kepada Polri pasti kita akan tindaklanjuti,” tegasnya.

Diketahui, perkara ini bermula ketika ibu korban melaporkan dugaan tindak pidana pencabulan terhadap tiga orang anaknya, ke Polres Luwu Timur, pada Oktober 2019 lalu.

Terlapornya yang tak lain adalah mantan suaminya yang disebut berkerja sebagai aparatur sipil negara (ASN).

Polisi kemudian mengambil keterangan saksi, ketiga korban, melakukan pemeriksaan psikologi, termasuk meminta visum et repertum ke Puskesmas Malili, Luwu Timur, dan Biddokes Polda Sulawesi Selatan.

Setelah melakukan serangkaian penyelidikan, penyidik menyatakan tidak menemukan bukti yang cukup terkait tindak pidana pencabulan, dan menghentikan penyelidikan.

Belakangan perkara ini menjadi sorotan karena penyelidikannya dihentikan. Bareskrim Polri kemudian mengirim tim asistensi untuk membantu penanganan perkara.

(hg)

Pos terkait