Perry Warjiyo Optimis Rupiah Berpotensi Menguat

  • Whatsapp
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo.

transbisnis.com | JAKARTA – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo optimis nilai tukar rupiah berpotensi cenderung menguat seiring membaiknya kinerja perekonomian dan ketahanan eksternal Indonesia.

“Kinerja perekonomian domestik diperkirakan akan semakin membaik. Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh kembali membaiknya mobilitas masyarakat sejalan dengan pelonggaran kebijakan pembatasan mobilitas sebagai dampak respons penanganan covid-19,” ujar Perry Warjiyo dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia, Selasa (21/9/2021).

Bacaan Lainnya

Ia menjelaskan, periode Agustus hingga awal September 2021, aktivitas ekonomi domestik berangsur membaik, setelah mengalami perlambatan pada Juli 2021.

“Hal tersebut tercermin pada kinerja berbagai indikator dini, seperti penjualan eceran, ekspektasi konsumen, PMI Manufaktur, serta transaksi pembayaran melalui SKNBI dan RTGS, yang kembali meningkat. Di sisi eksternal, kinerja ekspor terus meningkat didukung oleh tetap kuatnya permintaan mitra dagang utama,” jelasnya.

Secara rinci, Perry mengatakan, nilai tukar rupiah pada 20 September 2021 menguat 0,94% secara rerata dan 0,18% secara point to point dibandingkan dengan level Agustus 2021.

“Penguatan tersebut didorong oleh persepsi positif terhadap prospek perekonomian domestik, terjaganya pasokan valas domestik, serta langkah-langkah stabilisasi BI,” tuturnya.

Dengan begitu, secara year-to-date (ytd), rupiah sampai dengan 20 September 2021 masih mencatat depresiasi sebesar 1,35% dibandingkan dengan level akhir 2020.

Perry mengatakan, depresiasi tersebut masih relatif lebih rendah dibandingkan depresiasi mata uang sejumlah negara berkembang lainnya, seperti Malaysia, Filipina, dan Thailand.

Sementara itu, faktor ketahanan eksternal, BI memperkirakan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) pada tahun ini akan mencapai kisaran yang rendah, yaitu sebesar 0,6% hingga 1,4% dari PDB.

Kemudian, posisi cadangan devisa Indonesia pun tercatat tinggi, mencapai US$144,8 miliar pada Agustus 2021, setara dengan pembiayaan 9,1 bulan impor atau 8,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Selain itu, aliran masuk modal asing berlanjut dengan investasi portofolio mencatat net inflows sebesar US$ 1,5 miliar pada periode Juli hingga 17 September 2021.

“Dengan ekonomi Indonesia yang membaik, defisit transaksi berjalan yang rendah, jumlah cadangan devisa yang besar, dan juga dengan perbaikan-perbaikan terus, ada kecenderungan nilai tukar rupiah menguat atau setidaknya akan stabil,” pungkasnya.

Pos terkait