Harga Minyak Mentah Brent Naik 21 Sen

  • Whatsapp
Harga Minyak Mentah Brent Naik 0,49%
Harga Minyak Mentah Brent Naik 0,49%

transbisnis.com | Singapura – Pada perdagangan Jumat (17/9) pukul 10.15 WIB, harga minyak mentah berjangka jenis Brent untuk kontrak pengiriman November turun 0,2% ke US$ 75,53 per barel.

Padahal di sesi sebelumnya, Brent naik 21 sen.

Bacaan Lainnya

Harga minyak mentah mulai melemah jelang tengah hari i karena lebih banyak pasokan kembali online di Teluk Meksiko Amerika Serikat (AS), menyusul dua badai yang melanda kawasan itu.

Walau turun, tetapi kedua kontrak acuan berada di jalur untuk membukukan kenaikan mingguan sekitar 4%.

Serupa, harga minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman November 2021 juga melemah 0,2% menjadi US$ 72,50 per barel, setelah ditutup tidak bergerak pada hari Kamis (16/9).

Kedua kontrak berada di jalur untuk naik hampir 4% untuk minggu ini karena produksi di Teluk Meksiko AS telah pulih lebih lambat dari yang diharapkan setelah Badai Ida merusak fasilitas pada bulan Agustus dan badai tropis Nicholas melanda minggu ini.

Pada hari Kamis, sekitar 28% dari produksi minyak mentah Teluk Meksiko AS tetap offline, padahal ini sudah 2,5 setengah minggu setelah Badai Ida melanda.

“Masih butuh waktu lebih lama dari yang diperkirakan orang dalam hal itu kembali. Itu menjadi faktor pendukung di pasar,” kata analis komoditas Commonwealth Bank Vivek Dhar.

“Kita akan masuk ke lebih banyak kondisi defisit (pasokan) – itu tampaknya menjadi pandangan bagi harga,” tambah Dhar.

Data awal dari Energy Information Administration menunjukkan, ekspor minyak mentah AS pada September turun menjadi antara 2,34 juta barel per hari dan 2,62 juta barel per hari dari 3 juta barel per hari pada akhir Agustus.

Dhar juga menunjuk data dari International Energy Agency minggu ini yang menunjukkan persediaan minyak OECD jatuh ke level terendah pada November, karena pemulihan permintaan bahan bakar diperkirakan melebihi pasokan.

Risiko melemahnya permintaan di Asia Tenggara telah berkurang karena kasus Covid-19 tampaknya telah mencapai puncaknya di negara-negara seperti Indonesia, Malaysia dan Thailand, katanya.

Pos terkait