Vaksinasi di Pedalaman Langkat Diikuti 1.600 Warga

  • Whatsapp
Suasana vaksinasi di lapangan bola milik PT. Amal Tani di Kecamatan Sirapit,Langkat.

transbisnis.com  |  Kawasan pedalaman Langkat Sumatera Utara menjadi sasaran vaksinasi COVID-19. Sejumlah 1.600 warga dari berbagai latar belakang dengan tertib mengantri di areal seluas lapangan bola milik PT. Amal Tani Kecamatan Sirapit,Langkat, Selasa (07/09/2021).

Antusias warga menerima vaksin diiringi pengaturan jarak, penggunaan masker, mencuci tangan yang dikemas seketat mungkin. Upaya ini menjadi prioritas pemerintah setempat terutama bagi warga yang jauh dari kota. Sejumlah petugas gabungan pemerintah Kabupaten Langkat dan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mengarahkan jalannya proses vaksinasi.

Bacaan Lainnya

Vaksinasi yang berada di kawasan perkebunan sawit itu direspon Gubsu H. Edy Rahmayadi dengan mendatangi lokasi. Wabup Langkat H. Syah Afandin serta Direktur Utama PT. Amal Tani, Riahna Jamin Ginting terlihat menyambut orang nomor satu di Sumut itu.Alasan kedatangan ini terkait perkembangan vaksinasi dan penerapan protokol kesehatan di kabupaten Langkat serta aksi pemutusan mata rantai penyebaran COVID-19 di Sumut seluruhnya.

Perkembangan kasus COVID-19 di Sumut tercatat semakin membaik dan mulai terkendali. Hal ini ditandai dengan penurunan angka kasus positif dan aktif, yang diikuti penurunan persentase keterisian tempat tidur untuk pasien COVID-19.

Sampai dengan tanggal 7 September 2021 data Satgas COVID-19 Sumut mencatat kasus positif kumulatif telah mencapai 99.854 kasus, meningkat 448 kasus dibanding hari sebelumnya. Sedangkan kasus sembuh mencapai 80.727 atau bertambah 1.717 kasus. Artinya, kasus aktif turun 1.309 kasus, sehingga jumlah kasus aktif kumulatif di Sumut menjadi 16.608 kasus.

Indikator penting lainnya adalah positivity rate Covid-19 Sumut yang terus menurun hingga 8,31%. lebih kecil dari capaian nasional yang masih berkisar 10,51%. Dengan tren yang terus konsisten, dimungkinkan positivity rate Sumut akan terus menurun hingga dibawah standar WHO, yaitu dibawah 5%.

Belajar dari pengalaman sebelumnya di gelombang pertama dan kedua, lonjakan kasus justru terjadi pada saat kasus sudah turun. Kedisiplinan menerapkan protokol kesehatan diuji ketahannannya. Kerja sama dari seluruh lapisan, baik pemerintah dan unsur masyarakat, untuk tidak kendur guna mempertahankan situasi yang mulai terkendali ini.* jendaingetanbangun.

Pos terkait