Dosen FMIPA USU Aplikasikan Biopestisida Daun Eucalyptus untuk Tanaman Jeruk

  • Whatsapp

transbisnis.com | MEDAN – Tanaman jeruk sebagaimana halnya dengan tanaman buah lainnya, seringkali menghadapi ancaman hama yang merusak.

Untuk itu, Tim Pengabdian Masyarakat Dosen USU Bersama para petani berupaya mengendalikan hama lalat buah yang menyerang tanaman Jeruk Manis (Citrus X Sinensis), melalui metode pengendalian hama terpadu.

Dengan prinsip ramah lingkungan menggunakan biopestisida dari bahan minyak Eucalyptus yang diekstrak. Setelah itu dilakukan analisis secara khusus terhadap tingkat kematian (mortalitas) lalat buah (Bactrocera sp) untuk diketahui dosis optimal penggunaan biopestisida.

Kegiatan Pengabdian Masyarakat ini digagas oleh dosen FMIPA Universitas Sumatera Utara yang diketuai Dr Muhammad Taufik, SSi, MSi, berlokasi di Desa Dolat Rakyat Kecamatan Ujung Sampun Kabupaten Karo. Tim ini beranggotakan Dr Cut Fatimah Zuhra, Boby Cahyady, SSi, MSi, dan Dr Rini Hardiyanti, STP di sela memberikan penyuluhan dan materi kepada Kelompok Tani Bukit Rumah Sendi tersebut.
“Kami melihat satu tahun terakhir ini, banyak petani yang gagal panen akibat serangan hama lalat buah ke tanaman jeruk. Mereka memerlukan pestisida alternatif yang ramah lingkungan dan dapat membantu meningkatkan produksi jeruk secara optimal,” ujar Dr Muhammad Taufik.

Biopestisida merupakan pestisida yang terbuat dan diambil dari bahan alam. Biopestisida tersebut sebagai alternatif pengganti dari pestisida sintetis atau kimia yang dapat menimbulkan efek samping toksik baik pada lingkungan, makhluk hidup serta dapat menyebabkan resistensi terhadap hama.

“Pestisida nabati berbahan Eucalyptus ini termasuk dalam pestisida yang ramah lingkungan dikarenakan memberikan dampak positif pada tanaman dalam jangka waktu tertentu serta mudah untuk terdegradasi, residu cepat hilang, tidak mencemari lingkungan dan aman terhadap makhluk hidup.

Tim Pengabdian Masyarakat memanfaatkan Daun Eucalyptus grandis yang ditanami masyarakat untuk diambil batangnya sebagai bahan baku pembuatan pulp, tetapi daunnya belum dimanfaatkan secara maksimal. Tanaman ini termasuk tanaman yang dibudidayakan di Sumatera Utara setelah kelapa sawit,” tegas Ketua Tim.

Edukasi melalui pengabdian masyarakat ini diselenggarakan pada awal September 2021 dengan dihadiri oleh masyarakat yang tergabung melalui Kelompok Tani Bukit Rumah Sendi, dengan menerapkan protokol Kesehatan. Edukasi diharapkan mampu memberikan kontribusi kepada masyarakat dengan panen jeruk secara optimal sehingga ke depannya tidak dijumpai lagi kejadian gagal panen yang merugikan petani.

“Alhamdulillah, melalui kegiatan ini kami sangat terbantu dengan berbagai informasi biopestisida terhadap hama tanaman, khususnya jeruk manis. Ke depannya kami berharap Universitas Sumatera Utara terus memberikan kontribusi kepada petani seperti kami ini, khususnya dalam mengolah lahan dan tanaman, sehingga panen ke depannya dapat maksimal,” ujar Leo Napolisa Ginting, Ketua Kelompok Tani Bukit Rumah Sendi. (RJ)

Pos terkait