Saat Masker Menjadi Properti Acara Adat Batak

  • Whatsapp
Seremoni penyerahan ulos dan seluruh yang turut serta menggunakan masker.

transbisnis.com | Aktivitas budaya adalah rangkaian seluruh sendi kehidupan untuk kebutuhan naluri guna mengungkapkan emosional, kepuasan estetis, hiburan, sarana komunikasi, persembahan dan integritas masyarakat.

Suku Batak Toba di berbagai tempat mempunyai komitmen yang tinggi terhadap nilai budaya. Hal ini dapat kita lihat bagaimana mereka secara konsisten mematuhi nilai budaya yang diwariskan oleh leluhurnya, seperti yang terungkap dalam pantun: omputta na di jolo martungkot siala gundi, adat na pinukka ni parjolo ingkon ihuthonon ni parpudi.

Bacaan Lainnya

Petuah dalam pantun ini mempunyai makna yang dalam sekali, yaitu semua tata aturan yang ditetapkan oleh leluhur harus dituruti dan ditaati serta dilaksanakan secara turun-temurun.

Sedemikian dalamnya warga Batak Toba memaknai budayanya dan juga melestarikannya secara baik. Mereka bermusik (gondang sabangunan), instrumen yang dipercaya diciptakan Ompu Mulajadi Nabolon dan pada zaman dahulu digunakan untuk upacara adat maupun upacara religius

Mereka juga memakai ulos, kain tenun khas Batak berbentuk selendang. Benda ini merupakan simbol restu, kasih sayang dan persatuan, sesuai dengan pepatah Batak yang berbunyi: “ Ijuk pangihot ni hodong, Ulos pangihot niholong”, yang artinya jika ijuk adalah pengikat pelepah pada pohonnya maka ulos adalah pengikat kasih sayang antarsesama.

Juga ada tortor,  tarian trasdisional Batak yang diiringi gondang. Berbagai acara adat  seperti pesta kawin (unjuk), pesta bona taon marga, bahkan acara adat orang meninggal saur matua (panjang umur) diwarnai dengan tortor.

Nilai-nilai budaya leluhur ini sangat dijaga dan diwujudnyatakan oleh masyarakat Batak untuk menunjukkan suatu nilai dan status sosial di tengah-tengah masyarakat yaitu; manusia beradat (maradat). Sebutan manusia maradat ini, artinya menjaga harmoni dan stabilitas kelangsungan hidup serta relasi diri dengan orang tua, keluarga, masyarakat dan Tuhan.

Beruntung sekali. Penulis berkesempatan diundang menyaksikan resepsi adat Batak Toba di kota Pematang Siantar, Selasa (06/07/2021). Dikatakan beruntung, karena dalam suasana pandemi COVID-19 akan sangat langka pelaksanaan adat agung seperti ini apalagi diwarnai dengan penerapan protokol kesehatan ( Prokes).

Lokasi resepsi adat sejatinya mampu menampung seribuan tetamu. Ruang pertemuan terdiri dari dua lokasi dan biasanya dimanfaatkan seluruhnya guna ditempati para undangan.

Namun pesta adat yang disebut “ Pesta Panangkokhon tu Batu Na Pir Saring-saring” terbilang tertib dalam jumlah tetamu dan Prokes menjadi keniscayaan. Sejak memasuki gerbang undangan disambut penerima tamu dengan thermogun , hand sanitizer , galon dan sabun cuci tangan yang sudah disediakan. Bahkan pihak pengundang juga menyiapkan masker bagi undangan yang lupa membawanya.

Informasi yang diperoleh dari seorang keluarga pengundang, Tumpal Sialagan, acara ini diawali dengan penggalian tulang belulang opung (nenek) mereka dan dibuatkan tugu sebagai pengganti makamnya.

Tradisi  ini disebut dengan “Mangongkal Holi” yang merupakan tradisi masyarakat Batak Toba untuk membongkar kembali tulang – belulang para nenek moyang atau leluhur dan menempatkannya kembali ke suatu tempat yang disebut dengan tugu.

Orang Batak Toba ini percaya, apabila mereka menggelar tradisi ini akan mendapatkan limpahan berkah. Berkah di sini bisa berupa apa saja, seperti keturunan, panjang umur, serta rezeki yang sepadan.

Pantauan di Wisma Gotongroyong itu, jalannya acara tampak dengan jelas penerapan Prokes khususnya masker dan face shield menjadi bagian penting pada acara agung tersebut. Padahal keluarga Sialagan sudah melakukan vaksin lengkap. “ Saya sudah menerima vaksin lengkap dua kali,” ujar Pak Sialagan sebagai pengundang utama di acara itu.

Dalam usianya 86 tahun, pensiunan PNS ini masih terbilang sehat dan mempu menyetir kendaraan dari Pematang Siantar ke Medan. “ Saya masih mampu menyetir sendiri,” ujarnya sambil mengaku seminggu sebelum acara adat sudah menerima vaksin kedua.

Baginya, Prokes di acara tersebut merupakan syarat agar tetap sehat dan upaya bersama memutus rantai penyebaran COVID-19.

Berselang beberapa menit, pembawa acara mengingatkan semua tetamu di ruangan itu agar menggunakan masker dengan benar. “ Unang lupa pake masker, “ ujarnya berkali-kali.

Tampilan properti adat seperti ulos, musik dan tortor semakin sempurna saat masker tetap digunakan para undangan. Raja-raja adat yang didaulat menari, menyerahkan ulos atau memberi kata sambutan seakan sangat peka dengan aba – aba pemakaian Prokes.

Heronimus Sembiring M.Kes , undangan yang datang dari Medan juga mengakui penerapan Prokes di lokasi acara cukup tertib. Manajer di satu rumah sakit swasta ini, menyatakan rasa salutnya dengan pelaksanaan acara adat kebesaran warga Batak namun tidak mengabaikan anjuran pemerintah menerapkan Prokes.

“ Undangan sangat berjarak dan tidak bekerumun. Bahkan masker tidak pernah lekang dari wajah mereka kecuali saat santap siang. Sejak di pintu masuk kita sudah diperiksa suhu tubuh dan prokes lainnya,” ujarnya berdecak kagum.

Konsistensi mematuhi nilai budaya menurut Heronimus Sembiring M.Kes adalah keniscayaan. “ Dalam suasana pandemi, konsistensi itu semakin bermanfaat dan membuktikan warga Batak sangat mendukung pelestarian adat dan mendukung program pemerintah dalam suasana pandemi ini,” ujarnya. (Jenda Bangun)

Pos terkait