Analis Pasar| IHSG Berpeluang Lanjutkan Penguatan Pekan Depan

  • Whatsapp
Analis Pasar | 2021, Investor Cenderung Melirik Saham Sektor Cyclical
Analis Pasar | 2021, Investor Cenderung Melirik Saham Sektor Cyclical.[net]

transbisnis.com | JAKARTA – Analis Pasar dari Erdikha Elit Sekuritas, Hendri Widiantoro menilai, secara umum data ekonomi dalam negeri sesuai proyeksi.

Pekan depan, pergerakan indeks saham akan dipengaruhi data tenaga kerja AS yang dirilis akhir pekan ini.

Bacaan Lainnya

Secara teknikal, IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan pekan depan.

Alasannya, IHSG sudah jenuh jual. “Apabila IHSG bertahan di support lower band 6.000, ada kecenderungan rebound teknikal terkonfirmasi,” tulis Hendri.

Investor global masih wait and see, dipengaruhi proyeksi perbaikan ekonomi Amerika Serikat (AS) yang lebih cepat dibanding perkiraan.

Padahal, yield obligasi acuan AS sejatinya sudah melandai.

Mengawali perdagangan perdana di kuartal kedua 2021, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan kinerja apik.

IHSG ditutup menguat 0,43% ke level 6.011,456 pada perdagangan Kamis (1/4).

Namun bila dibandingkan dengan posisi di akhir pekan lalu, IHSG masih terkoreksi 2,9%. Sepekan terakhir, indeks acuan domestik ini memang dilanda aksi jual.

Kekhawatiran gelombang baru Covid-19 menjadi sentimen negatif bagi pasar saham. Kisruh dagang juga memanas lagi, setelah China memboikot produk asal AS dan Eropa.

IHSG juga tertekan lantaran yield US Treasury sempat kembali naik ke atas 1,7%.

Dari dalam negeri, larangan mudik dan pembatasan aktivitas juga melemahkan IHSG, karena dikhawatirkan menekan pertumbuhan ekonomi.

Pelaku pasar juga masih dibayangi potensi kenaikan inflasi AS, yang dikhawatirkan mendorong percepatan kebijakan pengetatan moneter kembali.

Selain itu, pelaku pasar mewaspadai rencana Presiden AS Joe Biden mengalokasikan dana belanja infrastruktur senilai US$ 2 miliar.

Tapi, tim riset Phillip Sekuritas Indonesia menilai, investor memberi respons terukur atas rencana alokasi belanja infrastruktur Pemerintah AS tersebut.

Alasannya, rencana tersebut dibarengi wacana kenaikan pajak korporasi.

Untungnya, indeks saham di Asia rata-rata ditutup menguat di akhir pekan, sehingga IHSG ikut menguat. Indeks saham juga mendapat sentimen positif perbaikan di sektor manufaktur.

PMI sektor manufaktur Indonesia periode Maret yang dirilis IHS Markit naik ke 53,2 dari sebelumnya 50,9.

Tapi, inflasi mengalami penurunan menjadi 1,38% dari 1,37%. Jadi, daya beli masih lesu.

Pos terkait