Analis Pasar | Saham-saham Properti Mulai Bersinar

  • Whatsapp
Analis Pasar | 2020, Indeks Properti Turun Paling Dalam
Analis Pasar | 2020, Indeks Properti Turun Paling Dalam

transbiania.com | JAKARTA – Analis Pasar dari Sucor Sekuritas Joey Faustian mengatakan, saham-saham sektor properti mendapat sentimen positif dari sejumlah insentif yang digelontorkan oleh pemerintah.

Salah satunya, pemerintah telah memberikan insentif berupa pembebasan pajak pertambahan nilai (PPN) untuk rumah dengan harga jual paling tinggi Rp 5 miliar. Kebijakan ini diklasifikasikan dalam dua skema.

Bacaan Lainnya

Saham-saham sektor properti kompak menguat pada perdagangan Senin (1/3). Saham PT Ciputra Development Tbk (CTRA) menguat sebesar 6,49% ke harga Rp 1.230 per saham, selain itu saham pengembang properti lainnya yakni PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) juga melesat hingga 9,48% ke harga Rp 1.270 per saham.

Saham PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) juga naik 6,36% ke harga Rp 585, PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) meningkat 8,48% ke harga Rp 895 per saham, PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) melonjak 7,63% ke harga Rp 254 per saham, dan PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK) menguat 7,66% ke harga Rp 1.195 per saham.

Melesatnya saham-saham sektor properti sejalan dengan insentif sektor properti yang diumumkan secara detail pada Senin (1/3) sore.

Pertama, diskon 100% alias beban PPN untuk harga jual rumah tapak dan rumah susun paling tinggi Rp 2 miliar. Kedua, diskon 50% PPN untuk harga jual rumah tapak dan rumah susun lebih dari Rp 2 miliar hingga Rp 5 miliar. Ketentuan ini berlaku mulai 1 Maret 2021 hingga 31 Agustus 2021.

Joey mengatakan, insentif pelonggaran PPN ini berpotensi menurunkan harga properti. Tak hanya itu, pemerintah memberikan relaksasi rasio loan to value (LTV) atau financing to value (FTV) untuk kredit pembiayaan properti menjadi maksimal 100%.

Dengan demikian, nasabah bisa mengajukan kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit pemilikan apartemen (KPA) tanpa uang muka atawa dengan uang muka alias down payment (DP) 0%.

Selain dapat meringankan calon pembeli, hal ini juga dapat meningkatkan arus kas dan rasio pembayaran utang. Dengan adanya insentif tersebut, Joey memiliki pandangan bullish untuk sektor properti.

Menurut dia, insentif sektor properti ini dinilai sebagai salah satu leading indicator dari pertumbuhan ekonomi yang diharapkan dapat menciptakan multiplier effect untuk sektor lain seperti semen, konstruksi, dan lainnya.

Dari jajaran saham-saham properti, Joey menjagokan saham BSDE dan CTRA.

Hal ini karena dua emiten tersebut dinilai akan menjadi yang paling diuntungkan dari insentif tersebut dengan portofolio produk harga di bawah Rp 2 miliar masing-masing 75% dan 63%.

Joey mempertahankan rekomendasi beli BSDE dengan target harga Rp 1.500 dan beli CTRA dengan target harga sementara di Rp 1.200 per saham.

Meski diselimuti oleh banyak sentimen positif, pandemi Covid-19 masih membayangi sektor properti.

“Angka kasus baru corona yang masih tinggi di Jakarta mengakibatkan recurring income properti developer tidak dapat tumbuh,” kata dia.

Adapun saat ini pengembang properti masih memberikan diskon 50% kepada tenant mall.

Selanjutnya, angka tingkat okupansi hotel milik pengembang properti juga masih rendah di sekitar 30%.

Pos terkait