Wall Street Masih Tertekan di Perdagangan Terakhir Bulan Februari

  • Whatsapp
Investor Abaikan Donald Trump, Indeks Wall Street Naik
Wall Street.[net]

transbisnis.com | JAKARTA – Pada perdagangan Jumat (26/2) pukul 21.50 WIB, Wall Street masih tertekan pada perdagangan terakhir bulan Februari. Saham-saham sektor teknologi rebound, tapi sentimen masih rapuh di tengah kenaikan yield surat utang Amerika Serikat (AS) US Treasury.

Di mana Dow Jones Industrial Average turun 0,23% ke 31.330. Indeks S&P 500 menguat 0,43% ke 3.845. Sedangkan Nasdaq Composite menguat 0,94% ke 13.241.

Bacaan Lainnya

Meski mulai rebound, Nasdaq masih mencatat penurunan 4,59% dalam sepekan terakhir. Pada periode yang sama, S&P 500 turun 1,68% dan Dow Jones melemah 0,54% dalam lima hari perdagangan.

Saham Apple Inc, Amazon.com Inc, Microsoft Corp, dan Alphabet Inc naik tipis dalam perdagangan pra-pasar. Tetapi saham-saham ini menuju minggu terburuk dalam beberapa bulan.

Imbal hasil Treasury AS 10-tahun turun menjadi 1,478% setelah melonjak 1,614% kemarin dan mengguncang pasar saham.

Indeks yang mengukur volatilitas Wall Street melayang di level tertinggi satu bulan.

“Jika suku bunga terus bergerak secepat itu, pasar tidak akan menyukainya,” kata Eric Diton, Presiden dan Direktur Pelaksana The Wealth Alliance di New York.

Diton menambahkan bahwa tidak melihat alasan untuk panik di luar sana. “Ini hanyalah pelemahan normal yang terlambat,” kata dia.

Nasdaq pada hari Kamis mencatat penurunan persentase harian terburuk sejak Oktober.

Wall Street tertekan setelah kenaikan tajam dalam imbal hasil Treasury AS memicu aksi jual di beberapa saham teknologi mega-cap.

Saham teknologi sangat sensitif terhadap kenaikan imbal hasil karena nilainya sangat bergantung pada pendapatan masa depan.

Dow Jones bersiap menyambut bulan terbaiknya sejak November 2020 karena investor membeli perusahaan siklikal yang akan diuntungkan dari aktivitas ekonomi yang pulih. Sementara Nasdaq yang sarat teknologi tetap berada di jalur penurunan bulanan.

Dari sisi makroekonomi, data konsumsi personal AS, yang mencakup salah satu ukuran inflasi yang disukai Federal Reserve, menunjukkan inflasi inti naik menjadi 0,3% bulan lalu dari 0,2% pada Desember.

Stimulus akan kembali menjadi fokus karena DPR AS yang dikendalikan Demokrat bertujuan untuk mengesahkan tagihan bantuan virus corona senilai US$ 1,9 triliun dari Presiden Joe Biden pada hari Jumat.

Ini akan menjadi kemenangan legislatif besar pertama dalam kepresidenan Biden.

Harga saham Bank AS Citigroup Inc, Bank of America Corp, JPMorgan Chase & Co dan Goldman Sachs turun sekitar 1%.

Sementara harga saham perusahaan energi Chevron Corp, Exxon Mobil Corp masing-masing turun sekitar 2% karena harga minyak merosot.

GameStop Corp melonjak 11% karena investor ritel mendorong saham dalam reli baru yang bisa menghasilkan kenaikan mingguan tertinggi kedua.

Pos terkait