Rupiah Melemah Hingga 1,21% Sepekan Terakhir

  • Whatsapp
Analis Pasar | Tren Penguatan Rupiah Tidak Hanya Sesaat
Analis Pasar | Tren Penguatan Rupiah Tidak Hanya Sesaat

transbisnis.com | JAKARTA – Dalam sepekan terakhir, pelemahan rupiah tercatat sebesar 1,21%.

Sementara di kurs tengah Bank Indonesia (BI), rupiah juga membukukan kinerja yang serupa.

Bacaan Lainnya

Rupiah pada perdagangan hari ini, Jumat (26/2) ditutup melemah cukup dalam.

Rupiah di pasar spot ditutup turun ke level Rp 14.235 per dolar Amerika Serikat (AS) atau terkoreksi 1,07%.

Mata uang Garuda ini ditutup di level Rp 14.229 per dolar AS atau melemah 0,89%. Sementara dalam sepekan, rupiah di kurs Jisdor telah melemah 1,02%.

Ekonom Bank Mandiri Reny Eka Puteri menyebut, sejatinya rupiah bergerak cukup stabil pada awal pekan ini karena memang minimnya rilis data ekonomi dan sentimen. Hanya saja, menjelang akhir pekan, sentimen risk off muncul di pasar. Para investor merasa cukup khawatir dan akhirnya beralih ke aset safe haven.

“Ini tercermin dari kenaikan indeks dolar yang pada akhirnya membuat mayoritas mata uang di Asia melemah. Investor beralih ke dolar AS karena lonjakan yield US Treasury yang mencapai level 1,7%,” kata Reny.

Kondisi tersebut akhirnya membuat banyak investor yang melakukan aksi jual terhadap saham maupun obligasi di emerging markets, termasuk Indonesia. Reny bilang, aksi capital outflow ini pada akhirnya membuat rupiah melemah cukup dalam pada hari ini.

Senada, analis Monex Investindo Futures Faisyal juga bilang sentimen utama penggerak rupiah pada pekan ini adalah kenaikan yield US Treasury yang sempat menyentuh level tertingginya pada setahun terakhir.

Tak hanya itu, ekspektasi pelaku pasar dalam pekan ini disebut juga kurang menguntungkan rupiah.

“Pasar juga menyambut baik kemungkinan paket stimulus AS yang diloloskan oleh DPR AS pada nanti malam sehingga memberi dorongan terhadap dolar AS. Sementara dari dalam negeri, mulai muncul kekhawatiran investor terhadap proses pemulihan ekonomi Indonesia yang masih minim tanda-tanda perbaikan,” imbuh Faisyal.

Adapun, untuk pekan depan, Faisyal melihat pergerakan rupiah akan diiringi oleh berbagai sentimen.

Mulai dari kelanjutan paket stimulus AS, serta rilis data ekonomi global seperti nonfarm payroll AS dan data dalam negeri seperti inflasi.

Pos terkait