Tahun Ini, Bisnis Waralaba Kuliner Masih Unjuk Gigi

  • Whatsapp

transbisnis.com | JAKARTA – Bisnis makanan dan minuman adalah salah satu bidang usaha yang sanggup bertahan. Termasuk, usaha waralaba kuliner Selama pandemi virus korona.

Levita Supit, Ketua Umum Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI), mencatat, bisnis waralaba bidang food and beverages (F&B) di masa pandemi Covid-19 hingga kini masih bisa bertahan. Padahal, selama pandemi berlangsung, terjadi pembatasan aktivitas sosial dan ekonomi.

Bacaan Lainnya

“Bisnis ini masih tetap survive, karena masih bisa melakukan penjualan take away atau delivery. Bisnis ini pun berkembang dengan semakin banyaknya pemain di bidang F&B,” katanya.

Levita melihat, bisnis waralaba mulai menggeliat kembali di paruh kedua tahun lalu. Sayangnya, dia tidak memerinci angka pertumbuhannya.

Meski begitu, Levita khawatir, pertumbuhan waralaba kuliner bisa kembali stagnan di awal tahun ini. Penyebabnya, tak lain, kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) sepanjang Januari hingga awal Februari nanti.

Karena itu, ia berharap, program vaksinasi yang sudah berjalan bisa membangkitkan kembali bisnis waralaba di Indonesia.

Harapan Levita itu diamini oleh pemilik Tahu Taisi, Rosie Pakpahan. Maklum, selama pandemi berlangsung, permintaan kemitraan Tahu Taisi langsung anjlok. Padahal sebelumnya, dia bisa menggandeng hingga delapan mitra setiap bulan.

Tapi sekarang, cuma tiga sampai empat mitra Tahu Taisi saja per bulan.

“Turun 50%. Tetapi tetap bersyukur karena masih bisa membantu orang-orang,” ujar Rosie.

Untuk tetap bisa menggaet mitra, Rosie memberikan promo bertajuk New Normal kepada para partner Tahu Taisi yang akan bergabung. Namun, ia tidak memerinci jenis promosi itu.

Djoko Kurniawan, konsultan bisnis dan waralaba dari DK Consulting, juga melihat, mulai akhir tahun lalu para investor mulai masuk lagi ke bisnis waralaba. Bidang incaran para investor masih tetap bisnis kuliner.

Itu sebabnya, bisnis F&B masih bakal terus dicari oleh investor waralaba di tahun ini. Soalnya, jumlah penduduk Indonesia sangat banyak, lebih dari 270 juta jiwa.
Lebih detail lagi, waralaba kuliner yang jadi incaran investor adalah dengan modal antara Rp 100 juta dan Rp 300 juta. Selain itu, gerai harus bisa menjajakan produk kuliner di rentang harga Rp 15.000 sampai Rp 25.000 per porsi. Karena, pasar di kisaran harga tersebut masih besar.

Supaya langgeng, Djoko menyarankan, pewaralaba bisa menampilkan produk kuliner baru. “Ini jadi faktor pembeda,” sebutnya.

Pengamat usaha Erwin Halim juga setuju, usaha kuliner bisa eksis tahun ini di tengah pandemi. Tapi, bisnis kuliner yang bisa berkembang dan bertahan ialah yang menjajakan makanan utama, bukan camilan.

Pos terkait