Perkonomian China Bakal Lebih Tinggi Tahun Ini

  • Whatsapp
Manufaktur China Berada di Level Ekspansi Selama 10 Bulan Berturut
Manufaktur China Berada di Level Ekspansi Selama 10 Bulan Berturut.[net]

transbisnis.com | JAKARTA – Perekonomian China tumbuh 2,3% pada 2020 dibandingkan dengan tahun sebelumnya, menurut statistik pemerintah China yang dirilis Senin (18/1).

Di mana Ekonomi China tahun lalu tumbuh lebih tinggi dari perkiraan, bahkan ketika ekonomi seluruh dunia terpengaruh pandemi virus corona.

Bacaan Lainnya

Ini adalah tingkat pertumbuhan tahunan paling lambat di China dalam beberapa dekade.

Tetapi selama satu tahun ketika pandemi yang melumpuhkan menjerumuskan ekonomi negara utama dunia ke dalam resesi, China jelas berada di puncak. Ekspansi ini juga mengalahkan prediksi Dana Moneter Internasional (IMF) yang memperkirakan ekonomi China akan tumbuh 1,9% pada tahun 2020.

“Performa ekonomi China lebih baik dari yang kami perkirakan,” kata Ning Jizhe, juru bicara Biro Statistik Nasional China, pada konferensi pers di Beijing seperti dikutip CNN.

China membatalkan target pertumbuhan ekonomi di tahun lalu untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade karena pandemi corona memberikan pukulan bersejarah bagi ekonomi.

Produk domestik bruto China (PDB) menyusut hampir 7% pada kuartal pertama 2020 karena sebagian besar negara dikunci untuk menahan penyebaran virus corona.

Namun, sejak saat itu, pemerintah China berupaya memacu pertumbuhan ekonomi melalui proyek infrastruktur besar dan dengan menawarkan bantuan tunai untuk merangsang pengeluaran masyarakat.

Langkah-langkah tersebut tampaknya berhasil. Laju pemulihan China dipercepat pada kuartal terakhir tahun 2020, tumbuh 6,5% pada periode Oktober-hingga-Desember 2020 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Itu lebih cepat dari pertumbuhan ekonomi sebesar 4,9% yang tercatat di kuartal ketiga 2020.

Produksi industri merupakan pendorong pertumbuhan ekonomi China yang sangat besar, melonjak 7,3% pada Desember 2020 dari tahun sebelumnya.

“Ekonomi China menguat, sementara sebagian besar dunia berjuang untuk menjaga keseimbangan,” tulis Frederic Neumann, co-kepala penelitian ekonomi Asia di HSBC, dalam laporan penelitian Senin (18/1).

Pos terkait