Saham Bank-bank Besar AS dan Kasus Exxon Mobile Bikin Wall Street Tergelincir

  • Whatsapp
Investor Abaikan Donald Trump, Indeks Wall Street Naik
Wall Street.[net]

transbisnis.com | JAKARTA – Pada perdagangan Jumat (15/1) Indeks utama Wall Street ditutup melemah. Indeks bursa Wall Street dibebani penurunan saham bank-bank besar Amerika Serikat (AS) meski melaporkan kenaikan pendapatan. Sementara saham sektor energi turun tajam karena penyelidikan terhadap Exxon Mobil Corp.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 177,26 poin atau 0,57% menjadi 30.814,26, indeks S&P 500 melorot 27,29 poin atau 0,72% ke 3.768,25. Sementara, indeks Nasdaq Composite turun 114,14 poin atau 0,87% menjadi 12.998,50.

Selama sepekan, indeks S&P 500 dan Nasdaq turun 1,5% dan Dow melemah 0,91%.

Bank-bank besar AS mengejutkan Wall Street dengan meraup keuntungan yang lebih besar dari perkiraan.

Namun, indeks saham bank S&P 500 tetap melemah karena saham Wells Fargo & Co, JPMorgan Chase & Co dan Citigroup Inc anjlok meskipun mereka telah membukukan laba kuartal keempat yang lebih baik dari perkiraan. Sektor bank telah menguat tajam dalam beberapa hari terakhir.

Baca Juga: Paket stimulus US$ 1,9 triliun bisa mempercepat pemulihan ekonomi AS

Saham Wells Fargo anjlok 7,8%, termasuk di antara penurunan terbesar di S&P 500, bersama dengan saham Exxon Mobil yang turun 4,8%.

Saham Exxon jatuh setelah sebuah laporan menyebutkan bahwa Komisi Sekuritas dan Bursa AS meluncurkan penyelidikan terhadap perusahaan minyak tersebut. Penyelidikan ini menyusul keluhan pelapor bahwa mereka menilai terlalu tinggi aset utama di cekungan minyak serpih Permian yang produktif.

“Sektor keuangan dan energi telah mengecewakan … yang menjatuhkan seluruh pasar,” kata Chris Zaccarelli, kepala investasi di Independent Advisor Alliance di Charlotte, North Carolina seperti dikutip Reuters.

“Tahun ini adalah tahun keuangan, energi, material, industri. Jadi jika ada hari ketika mereka tidak memimpin, itu bukan kabar baik untuk pasar,” imbuhnya lagi.

Indeks utama Wall Street baru-baru ini mencapai rekor tertinggi di tengah harapan paket stimulus fiskal yang besar dan kuat.

Presiden AS yang akan datang Joe Biden pada Kamis malam meluncurkan proposal stimulus senilai US$ 1,9 triliun, yang termasuk sekitar US$ 1 triliun dalam bantuan langsung untuk rumah tangga.

Sementara itu, data menunjukkan penurunan lebih lanjut dalam penjualan ritel AS pada bulan Desember sebagai tanda terbaru bahwa ekonomi AS kehilangan kecepatan yang cukup besar pada akhir tahun 2020.

“Data ekonomi yang lebih lemah dari perkiraan, dan terutama di bagian ekonomi seperti penjualan ritel, adalah pendorong besar,” kata Liz Ann Sonders, kepala strategi investasi di Charles Schwab.

Pos terkait