Harga Minyak Mentah Brent Turun 71 Sen

  • Whatsapp
Rusia akan Tingkatkan Produksi Minyak Sebesar 125.000 Barel Per Hari
Rusia akan Tingkatkan Produksi Minyak Sebesar 125.000 Barel Per Hari (WTI).[net]

transbisnis.com | JAKARTA – Pada perdagangan Jumat (15/1) pukul 15.00 WIB, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Maret 2021 turun 71 sen atau 1,2% menjadi US$ 55,71 per barel. Padahal pada Kmais (14/1), Brent mengaut 0,6%.

Harga minyak mentah jatuh pada perdagangan akhir pekan ini karena kekhawatiran tentang sejumlah kota di China yang di lockdown akibat lonjakan virus corona.

Setali tiga uang, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Februari 2021 juga melemah 46 sen atau 0,9% ke level US$ 53,11 per barel. WTI naik lebih dari 1% pada sesi sebelumnya.

Dengan hasil ini, maka Brent sedang menuju penurunan mingguan pertama dalam tiga minggu terakhir. Sedangkan harga minyak mentah WTI berada di jalur penguatan untuk minggu ketiga.

Kini produsen minyak menghadapi tantangan untuk menyeimbangkan penawaran dan permintaan dengan kalkulus yang melibatkan peluncuran vaksin versus penguncian.

Paket bantuan Covid-19 senilai hampir US$ 2 triliun di AS yang akan diresmikan oleh Presiden terpilih Joe Biden dapat meningkatkan permintaan minyak dari konsumen minyak mentah terbesar dunia. Tetapi data pekerjaan yang lebih buruk dari yang diharapkan membayangi rencana tersebut.

“Dengan paket Biden diimbangi oleh data ketenagakerjaan AS yang lemah, pasar di Asia enggan untuk memaksa harga,” kata Jeffrey Halley, analis pasar senior di OANDA.

Sementara itu, impor minyak mentah ke China naik 7,3% pada tahun 2020, dengan rekor kedatangan pada kuartal kedua dan kuartal ketiga karena kilang meningkat dan harga rendah mendorong penimbunan.

Tetapi China melaporkan jumlah kasus Covid-19 harian tertinggi dalam lebih dari 10 bulan pada hari Jumat (15/1). Ini membuat China melakukan lockdown selama seminggu di sejumlah kota dengan 28 juta orang diisolasi dan kematian pertama negara itu akibat virus corona dalam delapan bulan.

“Euforia pasar minyak sangat kuat, tetapi indikator pasar dari Asia beragam,” kata RBC Capital Markets.

“China, mesin pertumbuhan permintaan minyak global, sedang bergumul dengan wabah COVID baru,” katanya.

Pos terkait