Kinerja APBN 2020 Masih Terkendali

  • Whatsapp

transbisnis.com | Jakarta – Dengan adanya pandemi, terdapat realisasi APBN yang tidak sesuai dengan ketentuan awal yang telah ditetapkan, namun pemerintah telah berusaha untuk mengalihkan anggaran tersebut kepada masyarakat guna mendorong serta memperkuat perekonomian selama pandemi.

Di dalam press release Kementerian Keuangan pada 6 januari 2021, terdapat kutipan dari Presiden RI yang menggambarkan situasi perekonomian Indonesia.

“Kinerja APBN tahun 2020 masih terkendali dengan defisit yang terjaga dan Program PEN terealisasi secara optimal untuk penanganan Covid-19, guna memberikan perlindungan sosial dan membantu dunia usaha.”

Defisit tersebut terdapat dalam berbagai bidang di ekonomi Makro yaitu Pertumbuhan ekonomi dari realisasi tahun 2019 sebesar 5,02% menjadi -1,7 s.d. -2,2 %, inflasi dari 2,7% menjadi 1,68%, tingkat bunga SPN 2 bulan dari 5,6% menjadi 3,19%, Harga minyak mentah Indonesia dari 62 US$/ Barel menjadi 40 US$/ Barel, lifting minyak 746 ribu barel/ hari menjadi 705 ribu barel/ hari dan lifting gas dari 1.057 ribul barel/ hari menjadi 983 ribu barel/hari. Sedangkan untung Nilai Tukar Rupiah mengalami peningkatan dari Rp 14.146 menjadi Rp 14.557.

Realisasi pendapatan negara juga mengalami penurunan sebesar Rp 1.633,6 T yakni lebih rendah dari Rp 327 T dari tahun 2019 atau lebih rendah Rp 599,6 T dari target APBN 2020. Dari penurunan pendapatan tersebut terdapat sektor Pajak yang paling terpukul dari adanya dampak pandemic, hal tersbeut dikarenakan adnaya insentif kepada UMKM dan dunia usaha yang terimbas.

Namun untuk Kepabeanan & cukai masih relative baik dikarenakan adanya kebijakan tarif cukai dan pengendalian rokok illegal. Bahkan Bea Masuk dan Bea Keluar melampaui target dikarenakan adanya kinerja kegiatan ekspor yang lebih baik dari perkiraan dalam Perpres 72. Realisasi penerimaan tersebut mencapai 103,48% atau sebesar Rp 212,85 T.

Penerimaan Cukai terbesar berada di Ethil Alkohol dengan pertumbuhan penerimaan sebesar 2,3%, walaupun terdapat penurunan produksi sebesar -9,7%. Peningkatan tersebut terjadi dikarenakan adanya kebijakan pemerintah yang tepat serta adanya pengelolaan administrasi yang baik. Bea Masuk terbesar berada dari Industri pengolahan dan Perdagangan Besar/ eceran dengan share-nya mencapai 88,8%.

Sedangkan untuk Bea Keluar terdapat dari peningkatan volume ekspor tembaga dan bauksit, penerimaan extra effort tembaga serta industry pengolahan berupa ekspor CPO dan biji Kakao.

Dari Penerimaan pajak, terdapat sektor yang paling terdampak yaitu dari sektor industri dan perdagangan dikarenakan adanya penurunan impor dan tingkat konsumsi masyarakat, sektor jasa keuangan, konstruksi & real estate, serta transportasi & perdagangan. Namun sektor utama penerimaan pajak tersebut mulai menunjukkan perbaikan pada Triwulan IV 2020.

Dalam mengatur pergerakan pertumbuhan ekonomi, Pemerintah Indonesia fokus kepada belanja negara untuk membantu penanganan covid-19, mengurangi dampak kenaikan kemiskinan, dan mengendalikan laju penurunan pertumbuhan ekonomi. Hal ini menjadikan peningkatan realisasi belanja Barang K/L sebesar 24,7%, realisasi Belanja Modal sebesar 6,2%, serta realisasi belanja Bansos K/L sebesar 82,3%. Hal ini menjadikan terjadinya peningkatan penyerapan belanja K/L tahun 2020 dibandingkan tahun 2019

Realisasi tersebut terdapat dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Tahun 2020 sebesar Rp 695,2 T dan Sisa Lebih Pembiayaan Anggran Tahun Berkenaan, yaitu selisih antara surplus/ defisit anggaran dengan pembiayaan netto (SILPA EARMARK) sebesar Rp 50,94 T. Namun dalam realisasi PEN baru berjalan sebesar 83,4%, realisasi tersebut masih akan terus di usahakan untuk mencapai 100 % menjelang masa APBN 2020 selesai.

Reporter| Nabilah CW

Pos terkait