Kapal Shahid Rudaki Bergabung ke Angkatan Laut Garda Revolusi

  • Whatsapp
Televisi Pemerintah Iran mengatakan pada Kamis (19/11), "kapal perang berat, multiguna, dan jarak jauh yang mampu membawa semua jenis pesawat, drone, rudal, dan sistem radar" telah bergabung ke Angkatan Laut Garda Revolusi.

transbisnis.com | DUBAI – Televisi Pemerintah Iran mengatakan pada Kamis (19/11), “kapal perang berat, multiguna, dan jarak jauh yang mampu membawa semua jenis pesawat, drone, rudal, dan sistem radar” telah bergabung ke Angkatan Laut Garda Revolusi.

Kekuatan Angkatan Laut Garda Revolusi, pasukan elit Iran, bertambah, seiring kehadiran kapal perang yang mampu membawa pesawat, peluncur rudal, dan drone, di tengah ketegangan yang meningkat dengan Amerika Serikat (AS).

Bacaan Lainnya

“Kapal perang Iran, Shahid Rudaki adalah kota Angkatan Laut bergerak yang mampu menjalankan semua misi laut,” sebut stasiun televisi Pemerintah Iran, seperti dikutip Reuters.

Komandan Angkatan Laut Garda Revolusi Ali Reza Tangsiri mengatakan kepada televisi Pemerintah Iran, kapal perang tersebut akan memberikan keamanan untuk “jalur transportasi laut, kapal tanker minyak, kapal komersial, dan kapal penangkapan ikan di laut lepas”.

Sebuah pernyataan yang diterbitkan di Sepah, situs berita Garda Revolusi, mengutip Komandan Garda Revolusi Hossein Salami, menyebutkan, kapal perang sepanjang 150 meter itu “menciptakan cakrawala yang lebih luas bagi Angkatan Laut Iran untuk bergerak melintasi lautan”.

Armada Kelima Angkatan Laut AS yang berbasis di Bahrain menolak berkomentar tentang kapal perang baru Iran tersebut ketika dihubungi oleh Reuters.

Ketegangan Teheran dan Washington telah meningkat sejak 2018, ketika Presiden Donald Trump menarik Amerika Serikat dari kesepakatan nuklir 2015 antara kekuatan dunia dengan Iran, dan menerapkan kembali sanksi yang telah melumpuhkan ekonomi Iran.

Seorang pejabat AS mengatakan kepada Reuters pada Senin (16/11), Trump, dengan dua bulan tersisa di Gedung Putih, telah meminta opsi untuk menyerang situs nuklir utama Iran di Natanz, tetapi akhirnya memutuskan untuk tidak mengambil langkah dramatis.

Republik Islam menegaskan kembali, bahwa setiap serangan terhadap Iran oleh Amerika Serikat akan menghadapi tanggapan yang “menghancurkan”.

Pos terkait