4 Pemuda Bejat Cabuli Siswi SMK Secara Bergilir di Ruang SD Laguboti

  • Whatsapp
4 Pemuda Bejat Cabuli Siswi SMK Secara Bergilir di Ruang SD Laguboti
Ilustrasi.[net]

transbisnis.com | TOBA – Ntah setan apa yang merasuki 4 Pemuda memperkosa anak di bawah umur yang masih berstatus siswi di salah satu SMK di Kabupaten Toba. Peristiwa memilukan ini terjadi pada hari Minggu (8/11) dini hari sekira pukul 01.00 WIB.

Pemerkosaan yang dialami korban inisial FS, 17 warga Kecamatan Balige berawal dari perkenalan korban dengan salah seorang pria lewat media sosial Facebook.

Bacaan Lainnya

Berdasarkan keterangan korban, pria kenalannya datang bersama seorang temannya dengan mengendarai kendaraan roda dua ke halaman rumah korban pada Sabtu (7/11) malam sekira pukul 22.00 WIB.

Kasat Reskrim Polres Tobasa, AKP Nelson Sipahutar ketika dikonfirmasi di Ruangan Unit PPA Polres Tobasa, Senin (9/11) membenarkan adanya penangkapan beberapa orang diduga pelaku pemerkosaan terhadap korban FS.

Dari keterangannya, berdasarkan hasil pemeriksaan sementara beberapa diantaranya tidak ikut sebagai pelaku pemerkosaan.

“Benar sudah ada kita tangkap beberapa orang, saat ini kita masih melakukan pemeriksaan dan hari ini juga akan kita lakukan gelar perkara. Agar lebih pasti, besok akan kita adakan konferensi pers terkait kasus ini. Saya mohon teman teman wartawan bersabar ya,” ujar Nelson.

Teman media sosialnya di Facebook bernama Jogan, namanya aslinya inisial DH diketahui baru dikenal korban sekira 2 minggu lalu. DH dan temannya membawa korban ke salah satu cafe di Kecamatan Laguboti.

“Di sana saya dikasi minum sprite dan tiba-tiba saya merasakan sakit kepala. Saya lalu dibawa ke rumah kakaknya di Tambunan, di situ ada kakaknya dan keluarganya,”

“Lalu saya diajak si Jogan ke kamar, aku bilang aku mau pulang tapi tak dikasi. Dia bilang jam 04.00 aja pulang biar tidak diketahui orang lain. Dia lalu memperkosa saya di dalam kamar,”

“Usai diperkosa, saya tidak berani teriak karena ketakutan dan dia membawa saya pulang tapi diturunkan di jalan tepatnya di Simpang Gob,” paparnya.

“Lalu pas aku jalan, ada 4 sepeda motor sebanyak 8 orang. Mereka bertanya saya mau ke mana, saya jawab mau pulang. Mereka meminta saya naik untuk diantar pulang,”

” Mereka bukannya membawa saya pulang malah saya dibawa ke Porsea ke salah satu rumah makan,”.

Lalu kereta mereka putar balik, mereka lalu membawa saya ke SD 173550 Laguboti, di sana saya dibawa ke salah satu ruangan kelas, tiga orang masuk dan memerkosa saya secara bergantian sementara yang lainnya berjaga di luar. Waktu itu hari sudah jam 6 pagi,” paparnya.

Lanjut korban, pelaku ketiga mengantar korban jalan kaki, pas melewati salah satu salon kecantikan, pemilik salon yang sebelumnya sudah mengetahui kabar kehilangan korban akhirnya memanggil korban dan pelaku ke salon miliknya.

Ibu korban, M br Siagian, 40 mengaku mengetahui keberadaan anaknya setelah mendapat kabar dari pemilik salon.

“Pemilik salon lalu menahan mereka dan memberitahukan kepada keluarga. Setelah diinterogasi, pelaku akhirnya mengakui kalau pelaku pemerkosaan tidak dilakukannya sendirian tapi digilir oleh temannya yang lain,” paparnya.

Pada malam kepergian korban, lanjutnya, M br Siagian sempat melihat anaknya dibonceng paksa oleh dua orang pria yang tidak kenal naik ke atas sepeda motor tarik tiga.

Dia sempat mengejar sampai terjatuh dan berteriak memanggil nama putrinya, sayangnya sepeda motor terus melaju. Ibu korban pun mengajak saudaranya mengejar dari belakang.

“Kami melakukan pengejaran sampai simpang Laguboti, sayangnya jaraknya sudah terlalu jauh dan kami kehilangan mereka,”

“Lalu kami pulang dan memberitahukan kepada seluruh keluarga atas kepergian anak saya. Kamipun terus melakukan pencarian sampai akhirnya menerima kabar kalau anak saya sudah berada di salon tersebut,” terangnya.

Ibu korban mengaku masih menyimpan barang bukti berupa baju milik korban yang berlumuran darah. Pihaknya juga masih menunggu pihak kepolisian melakukan visum.

“Hingga saat ini Polisi belum juga datang untuk membawa anak kami melakukan visum dan kita masih terus menunggu sebab katanya harus polisi yang membawa anak kami untuk divisum,” katanya.

Sebagai orangtua korban, M br Siagian dan suaminya berharap keadilan bagi putrinya. Dia juga meminta aparat penegak hukum agar menjatuhkan hukuman seberat-beratnya kepada semua pelaku.

“Saya mau mereka dihukum seberat beratnya, kalau bisa dihukum mati. Jujur kami sekeluarga sangat terpukul dengan peristiwa ini. Anak saya ini anak baik, jarang keluar malam dan selalu pulang tepat waktu. Tolong pelaku dihukum mati,” imbuhnya sembari berurai air mata.

Berdasarkan penelusuran di salah satu tempat kejadian, tepatnya di SD 173550 Laguboti, Kecamatan Laguboti di ruang Kelas 1A terlihat kondisi pintu kelas terbuka.

Di dalam ruangan terdapat satu buah mancis warna merah dan satu lembar tripleks bekas yang di atasnya terlihat lumuran darah yang sudah mulai mengering.

Darah tersebut diduga darah bekas perawan korban. Tripleks dan mancis menjadi saksi bisu peristiwa tragis yang dialami korban.[wsp]

Pos terkait