Demo Tolak UU Cipta Kerja di Ternate Berakhir Ricuh, 14 Mahasiswa Diamankan

  • Whatsapp
Demo Tolak UU Cipta Kerja di Ternate Berakhir Ricuh, 14 Mahasiswa Diamankan

transbisnis.com | TERNATE – Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda, ratusan mahasiswa Kota Ternate menggelar aksi demo tolak UU Omnibus Law Cipta Kerja yang berakhir dengan ricuh.

Awalnya massa aksi melakukan pemblokadean jalan di depan Jatiland Mall Kota Ternate, Rabu (28/10/2020). Massa yang mengatasnamakan Aliansi Masyarakat Maluku Utara terdiri atas berbagai elemen dan OKP yang dikoordinatori oleh Safrudin Tahir.

Bacaan Lainnya

Pukul 14.00 massa aksi bergerak melakukan aksi demo di depan Kantor Walikota Ternate. Aksi ini diwarnai dengan membakar ban bekas dan diiringi berbagai orasi oleh masing-masing perwakilan OKP.

Safrudin dalam orasinya mengatakan, bahwa pengesahan UU Omnibus Law Cipta Kerja oleh DPR RI pada 5 oktober lalu, memunculkan gelombang protes rakyat dari hampir seluruh daerah di Indonesia. Berulang kali aksi serentak nasional dilakukan, namun pengesahan Omnibus Law seakan tanpa hambatan.

“Dibalik pengesahan UU Omnibus Law Cipta Kerja yang secara terburu-buru dan inprosedural, terdapat sejumlah pasal kontroversial, dan nyata-nyata tidak berpihak kepada rakyat miskin,”

“Misal pada pasal 88C UU Cipta Kerja, UMK akan dihapus sebagai dasar upah minimum pekerja. Hal ini tentu menyebabkan upah minimum dipukul rata pada semua kota dan kabupaten, tanpa mempertimbangkan biaya hidup yang berbeda-beda pada setiap daerah,” teriak Safrudin dalam orasinya.

Selain akan membunuh kesejahteraan dan kebebasan buruh, aturan UU Cipta Kerja ini juga berdampak serius pada masalah lingkungan dan hak tanah masyarakat.

“Satu-satunya jalur yang bisa ditempuh untuk mencabut kembali UU Omnibus Law Cipta Kerja setelah disahkan DPR RI, hanyalah dengan mendesak presiden mengeluarkan Perppu,” imbuh Safrudin.

Secara umum tuntutan mereka adalah mendesak presiden untuk mengeluarkan Perppu. Jika tidak digubris, maka massa aksi mengancam untuk memboikot Pilkada 2020.

Kericuhan mulai terjadi saat pihak kepolisian melalui Kapolres Ternate AKBP Aditya Laksimada S.I.K mengingatkan massa aksi sesuai UU nomor 98 bahwa aksi demo dibatasi hingga pukul 18.00 WIT. Namun pihak massa aksi bersikukuh bahwa aksinya akan dilakukan hingga malam hari.

“Massa tidak membubarkan diri maka dengan terpaksa pihak keamanan membubarkan massa aksi,” ungkapnya.

Pihak kepolisian mengawali pembubaran massa dengan penyemprotan oleh mobil water kanon kepada massa aksi. Massa aksi sempat tidak membubarkan diri sehingga pihak kepolisian mengerahkan personilnya.

Untuk membubarkan paksa massa, sehingga kericuhan terjadi dan diakhiri dengan kejar-kejaran antara pihak kepolisian dengan massa aksi.

Berdasarkan pantauan transbisnis.com, sebanyak 14 mahasiswa yang diamankan petugas kepolisian. 14 mahasiswa tersebut diamankan karena melawan petugas.

“Kita akan perdalam, dipukul sengaja atau memang ada perlawanan, karena memang situasi sudah panas sehingga terjadi seperti tadi,” ujarnya.

Reporter | Wisang Erlambang

Pos terkait