Analis Pasar | IHSG Cenderung Menguat Pekan Depan

  • Whatsapp
Analis Pasar | IHSG Diramalkan akan Bergerak Sideways
Analis Pasar | IHSG Diramalkan akan Bergerak Sideways.[Ilustrator: winsah]

transbisnis.com | JAKARTA – Analis Pasar dari MNC Sekuritas Aqil Triyadi menjelaskan, IHSG pekan ini cenderung menguat masih dipengaruhi sentimen RUU Cipta Kerja yang dipandang pasar cenderung menguntungkan investor.

Berdasarkan catat analis pasar di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot pada perdagangan pada Jumat (16/10). IHSG tertekan 1,74 poin atau 0,03% ke level 5.103,414.

Bacaan Lainnya

Meskipun ditutup melemah, selama sepekan terakhir IHSG bergerak cenderung menguat 0,98%. Pada penutupan perdagangan Jumat pekan lalu (9/10), IHSG berada di level 5.053,66.

IHSG juga terkerek rencana merger bank-bank syariah di Indonesia. Selain itu, adanya rencana pembuatan pabrik baterai di Indonesia ikut mendorong beberapa saham pengelola pertambangan nikel menguat.

Sedangkan, Analis pasar dari Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta Utama menjelaskan, IHSG pekan ini terkerek euforia pasar terhadap hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) Oktober 2020.

Hasil rapat yang digelar 12 hingga 13 Oktober 2020 itu tetap mempertahankan tingkat suku bunga BI di level 4%.

Di sisi lain, adanya komitmen penuh untuk melaksanakan program quantitative easing (QE) dalam rangka meningkatkan likuiditas turut mengerek pasar. Adapun sentimen positif dari pengesahan RUU Omnibus law Cipta Kerja juga masih berpengaruh.

Menurut Nafan, sentimen-sentimen positif itu lebih kuat dibanding sentimen negatif yang memberatkan pasar selama dua hari terakhir.

Mengutip data dari RTI Business, selama dalam pekan ini hanya dua hari perdagangan yang ditutup di zona merah.

Adapun pelemahan itu disebabkan pasar yang wait and see terhadap program stimulus AS yang belum cair lantaran dinamika politik antara eksekutif dan legislatif.

“Pasar juga cenderung bersikap wait and see dengan adanya faktor kepastian resesi perekonomian Indonesia dari pemerintah,” jelasnya.

Untuk perdagangan pekan depan, 19 Oktober hingga 23 Oktober 2020, IHSG cenderung bergerak menguat dengan level resistance maksimum di 5.233. Sementara level support-nya di 4.976.

Menurutnya, sentimen yang akan mengerek pasar kurang lebih masih sama dengan pekan ini.

Di sisi lain, pasar berekspektasi terhadap data-data PMI manufactur-services negara-negara maju. Pasar juga berharap pada statement keberlanjutan program QE dari Ketua Federal Reserve Jerome Powell.

IHSG akan Terkonfirmasi Penguatan Selanjutnya.

Tidak jauh berbeda, Aqil memperkirakan IHSG pekan depan akan bergerak cenderung menguat di level 5.200 hingga 5.250. Jika IHSG mampu menembus level resistance terdekatnya di level 5.187, maka IHSG akan terkonfirmasi penguatan selanjutnya.

“Namun harap diperhatikan untuk level support-nya 4.928 hingga 5.057,” ungkap analis pasar tersebut.

Menurut Aqil, IHSG pekan depan akan dipengaruhi pergerakan bursa global dan asia. Adapun bursa global akan mempertimbangkan perkembangan stimulus fiskal Amerika Serikat yang saat ini masih terhenti pembahasannya.

Pelaku pasar juga menunggu rilis data ekonomi beberapa negara seperti GDP Growth China, balance trade Jepang, tingkat inflasi UK, dan klaim pengangguran AS.

Sementara dari dalam negeri, pergerakan IHSG akan terpengaruh rilis data penjualan kendaraan bermotor periode September 2020.

Pos terkait