Analis Pasar | Omnibus Law Bisa Jadi Angin Segar untuk Sektor Properti

  • Whatsapp
Analis Pasar | Omnibus Law Bisa Jadi Angin Segar untuk Sektor Properti
Analis Pasar | Omnibus Law Bisa Jadi Angin Segar untuk Sektor Properti

transbisnis.com | JAKARTA – Menurut Analis Pasar Ciptadana Yasmin Soulisa menilai, diketuknya omnibus law diyakini bisa memberbaiki permintaan di industri estate Tanah Air.

Termasuk, jika ruang bagi ekspatriat atau pekerja asing mulai masuk ke Indonesia. “Jika asing masuk, kemungkinan SSIA dan BEST yang paling diuntungkan,” kata Yasmin.

Bacaan Lainnya

Prospek saham sektor properti diyakini bakal bergerak positif di tengah tingginya tantangan tahun pandemi 2020.
Salah satu sentimen pendukungnya datang dari pengesahan omnibus law.

Namun, jika dikaitkan pada pelonggaran izin untuk hak milik apartemen bagi tenaga asing, maka dampaknya akan positif untuk DILD dan PWON.

Ini karena, kepemilikan diperbolehkan untuk apartemen kelas menengah hingga kelas atas.

Sementara Analis Pasar, Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji mengatakan, dampak omnibus law secara garis besar akan memberikan benefit yang positif terhadap sektor properti khususnya.

“Relaksasi kepemilikan asing atas properti berpeluang menguntungkan pengembang properti bertingkat tinggi di Jakarta,” ujar Nafan.

Selain itu, operator pusat perbelanjaan seperti mall juga akan kecipratan keuntungan, salah satunya dengan relaksasi pajak yang dirancang pemerintah tersebut.

Di samping itu, reformasi tenaga kerja juga dinilai bisa menguntungkan bagi industri pengembang properti secara keseluruhan.

“Peningkatan foreign direct investment (FDI) akan mengakibatkan permintaan yang lebih tinggi untuk aktivitas konstruksi. Rata-rata ekspatriat lebih cenderung favorit terhadap high rise building,” kata analis pasar tersebut.

Nafan menambahkan bahwa program Tapera di Januari 2020 juga turut memberikan manfaat positif terhadap perkembangan sektor properti. Itu juga turut berdampak positif bagi pertumbuhan kredit.

Di samping itu, Analis Pasar Yasmin menambahkan dampak pandemi telah menyeret keuangan real estate di semester I-2020. Pengembang properti sebagian besar melaporkan kinerja keuangan di bawah ekspektasi dalam enam bulan pertama tahun ini.

Kinerja bisnis inti secara signifikan dipengaruhi oleh pandemi Covid-19 di kuartal kedua 2020, sehingga pendapatan dari angka pemesanan lebih rendah, sementara biaya operasional tetap berjalan.

Selain itu, pendapatan berulang juga menurun lantaran adanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) diberlakukan kuartal II-2020.

Untuk kuartal III-2020, Yasmin memperkirakan kinerja emiten properti akan membaik, seiring hadirnya berbagai kemudahan dari pemerintah

Dan beberapa toko mulai kembali beroperasi meskipun kegiatan komersial masih tidak diperbolehkan seperti bioskop, salon kecantikan, taman bermain anak, dan lainnya.

Meskipun begitu, penjualan pemasaran masih menjanjikan, dimana sebelum PSBB diberlakukan marketing sales secara agregat melemah di kuartal I-2020, turun 9% secara year on year (yoy).

Namun, Yasmin mengungkapkan di akhir Juni 2020, jumlahnya berhasil tumbuh pesat 66% secara kuartalan atau quarter on quarter (qoq) dari penjualan pemasaran gabungan beberapa emiten

Seperti ASRI, BSDE, DILD, LPKR, PWON, dan SMRA yang di kuartal semester I-2020 hanya -7% dibandingkan periode serupa tahun lalu.

Penjualan pemasaran yang kuat diunjukkan oleh LPKR dan BSDE, begitu juga dengan PWON dan BSDE. Sedangkan perusahaan lain masih bergerak di bawah ekspektasi dengan pencapaian kurang dari 35% dari penjualan pemasaran sepanjang 2020 dibandingkan target mereka.

“Permintaan rumah dengan harga terjangkau masih terus meningkat, didukung langkah Bank Indonesia (BI) yang memangkas suku bunga di level rendah,” tambah Yasmin.

Meskipun begitu, dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia merosot tajam di kuartal II-2020, Yasmin tak berharap banyak jika tren suku bunga rendah bakal berdampak signifikan pada kinerja sektor properti.

Di sisi lain, sebelumnya Yasmin melihat fokus utama pelanggan terhadap konektivitas properti dan lokasi menjadi yang utama.

Namun, kini preferensi bergeser ke properti yang terjangkau dengan jaminan jaringan berkecepatan tinggi yang terletak di luar kawasan pusat bisnis, seperti perumahan, perkampungan atau perkantoran yang berlokasi di Bekasi, Tangerang, dan Depok.

“Sayangnya, untuk bisnis perbelanjaan seperti mal masih menjadi tantangan, karena lebih sedikit permintaan untuk toko fisik,”

“Pemulihan bisnis hotel juga akan lambat dengan sedikit pertemuan dan pertemuan tatap muka dalam beberapa bulan mendatang,” papar Yasmin.

Pos terkait