Analisis Pasar | Rupiah Bisa Kembali Menguat

  • Whatsapp
Analisis Pasar | Rupiah Bisa Kembali Menguat
Analisis Pasar | Rupiah Bisa Kembali Menguat.[net]

transbisnis.com | JAKARTA – Analisis Pasar Bank Permata Josua Pardede mengungkapkan, penguatan rupiah yang cenderung tipis pada perdagangan Rabu (30/9) didominasi sentimen depat calon presiden AS dan rilis data China.

“Debat capres cenderung tidak mendorong pasar ke arah sentimen tertentu, karena belum adanya isu ekonomi dan politik strategis yang dibahas,” kata Josua.

Bacaan Lainnya

Sementara itu, data PMI China berhasil mencatatkan kenaikan menjadi 51,5 poin, setelah di bulan sebelumnya berada di level 51 poin.

Di sisi lain, pasar saham Indonesia justru mengalami penurunan sebesar 0,19% ke level 4.870. Ini sejalan dengan keluarnya investor asing dari pasar saham sebanyak US$ 32,38 juta.

Berkaca dari kondisi tersebut, Analisis Pasar Josua memprediksi rupiah akan bergerak di rentang Rp 14.825 per dolar AS, hingga Rp 14.950 per dolar AS.

Penguatan nilai tukar rupiah diprediksi akan berlanjut pada perdagangan Kamis (1/10). Adapun sentimen yang mendominasi penguatan mata uang Garuda hari ini, datang dari eksternal.

Rupiah Hari Ini Masih akan Menguat

Analisis Pasar | Pergerakan Rupiah Cenderung Flat
Analisis Pasar Kurs Rupiah Spot.[net]
Sementara Analisis Pasar mencatat pada perdagangan Rabu (30/9) kurs rupiah tercatat menguat sebanyak 0,10% ke Rp 14.880 per dolar Amerika Serikat (AS).

Sementara itu, pada kurs tengah Bank Indonesia (BI) atau Jisdor, rupiah menguat tipis 0,01% ke level Rp 14.918 per dolar AS dibandingkan perdagangan hari sebelumnya Rp 14.920 per dolar AS.

Sementara Analisis Pasar dari Head of Economics Research Pefindo Fikri C Permana mengatakan, hasil debat calon presiden AS yang belum menunjukkan adanya sinyal perbaikan pada ekonomi AS jadi alasan bagi rupiah bisa kembali menguat.

Kondisi tersebut sekaligus membuat pelaku pasar cenderung berpaling dari ekonomi AS dan membuat mata uang greenback berpeluang melemah.

“Tekanan terhadap dolar AS hari omo kemungkinan besar, ditambah harga emas yang naik dan cadangan minyak yang turun, akan memberikan sentimen positif bagi negara berkembang,” kata Fikri.

Di samping itu, European Central Bank (ECB) berpotensi untuk gencar mendorong inflasi Benua Biru di atas 2%. Kondisi tersebut diperkirakan bakal membuat mata uang di negara-negara maju, secara fundamental melemah.

“Rupiah hari ini masih akan menguat, dengan rentang Rp 14.720 per dolar AS hingga Rp 14.920 per dolar AS,” kata Analisis Pasar tersebut.

 

Pos terkait