Beginilah Nasib IHSG Jika Indonesia Lockdown

  • Whatsapp
Simak Kebijakan BEI
Ilustrasi: winsah

transbisnis.com | JAKARTA – Penyebaran virus Corona (Covid19) terus terjadi di wilayah tanah air. Per hari ini Senin (30/3), jumlah pasien yang dinyatakan positif Covid-19 mencapai 1.414 kasus, dengan korban meninggal dunia sebanyak 122 orang dan 75 pasien dinyatakan sembuh.

Hal ini pun berdampak pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada perdagangan hari ini, IHSG melemah 2,88% ke level 4.414,50 setelah sebelumnya terjadi pemberhentian perdagangan (trading halt) sementara. Sejak awal tahun, IHSG bahkan telah anljok 29,92%.

Bacaan Lainnya

Beberapa wilayah di Indonesia mulai menerapkan local lockdown dan karantina wilayah untuk meminimalisir penyebaran Covid-19. Pemerintah DKI Jakarta telah melayangkan surat kepada Presiden untuk mengajukan karantina wilayah.

Namun, alih-laih melakukan lockdown, pemerintah akhirnya memberlakukan status darurat sipil, yakni pembatasan sosial (social distancing) dalam skala besar.

Presiden Direktur CSA Institute Aria Santoso menekankan pentingnya kejelasan definisi lockdown atau karantina wilayah.

Dalam artian, apakah lockdown tersebut nantinya memang sepenuhnya melarang warga untuk beraktivitas sama sekali atau hanya sekadar pembatasan wilayah yang hanya membatasi ruang gerak massa sehingga labih mudah dikontrol .

“Jadi masing-masing ada konsekuensinya. Karena sesungguhnya pembatasan ruang gerak bisa saja hanya memperlambat penyebaran virus tetapi bukan menghilangkan sama sekali. Bisa jadi ketika dinormalkan kembali, ada penyebaran yang kemudian akan meningkat,” ujar Aria.

Menurut Aria, jika memang pemerintah berniat melakukan lockdown, maka lockdown ini perlu disesuaikan dengan kondisi dan karakteristik masyarakat di wilayah masing-masing.

Dengan menimbang adanya perbedaan karakter sosial, kesiapan metode penanganan, kesiapan logistik, dan banyak faktor lain.

Sebab nantinya, keberhasilan dalam penanganan Covid-19 juga bakal berdampak positif bagi pergerakan indeks domestik.

China misalnya, telah melalui masa kritisnya dan dinilai cukup berhasil dalam mengatasi kondisi domestik dan berangsur pulih. Hal ini berimplikasi pada meredanya penurunan Shanghai Stock Exchange Composite Index.

“China dipersepsikan cukup berhasil mengatasi kondisi domestik, maka penurunan Indeks Shanghai sudah mereda dari tekanan jual yang agresif,” sambung dia.

Secara year-to-date, Shanghai Composite Indeks memang masih memberikan return negatif, yakni -10,96%. Namun, penurunan indeks tersebut tidak sedalam penurunan IHSG yang anjlok 29,92% sejak awal tahun.

Analis OSO Sekuritas Sukarno Alatas menilai IHSG berpotensi untuk tertekan apabila pemerintah jadi melakukan lockdown. Namun, hal ini sangat wajar karena aktivitas ekonomi menjadi terganggu akibat adanya kebijakan ini.

“Hanya saja positifnya penurunannya bisa selesai jika lockdown bisa berjalan dengan lancar,” ujarnya.

Saat ini, ia menilai kebijakan perubahan pembatasan auto rejection bawah (ARB) lebih efektif untuk mengatasi penurunan IHSG.

“Bagusnya lagi untuk memperlambat penurunan IHSG aturan ARB mungkin dibatasi jadi 3%-5%. Jadi tidak perlu ada trading halt,” sambung dia.

Terakhir, jika memang pemerintah serius untuk melakukan lockdown, Sukarno berharap ada sanksi yang tegas dan aturan yang mengikat.

Jangan sampai seperti lockdown yang terjadi di India, dimana membuat banyak pekerja migran kelaparan dan memaksa mereka kembali ke kampung halaman dengan berjalan kaki.

Ia menyambut baik kebijakan darurat sipil yang dinilai memberi kejelasan pada pelaku pasar.[kontan]

Pos terkait