Harga Tembaga Masuk Tren Bearish Dihantam Virus Corona

transbisnis.com | JAKARTA – Virus corona semakin mengganas membuat tembaga terus tertekan selama sepekan penuh. Mengutip Reuters, harga tembaga untuk kontrak tiga bulan di London Metal Exchange (LME) pada Jumat (28/2) pukul 15.30 WIB.

Terkoreksi 1,14% ke level US$ 5.552 per metrik ton dari penutupan Kamis (27/2) di 5.616 per metrik ton.

Bayangkan dalam sepekan pun, harga tembaga sudah melemah 3,69%. Analis Central Capital Futures Wahyu Laksono menilai, penyebab anjloknya harga komoditas logam industri termasuk tembaga karena dampak dari penyebaran virus corona.

“Harga anjlok karena kecemasan atas ketidakpastian efek virus corona,” katanya.

Terlebih setelah virus corona berhasil terinfeksi ke berbagai negara di seluruh dunia. Berita terakhir, virus corona sudah ditemukan di Nigeria dan Lithuania.

Hingga Jumat (28/2) pukul 17.30 WIB, jumlah terinfeksi virus corona capai 83.704 dengan jumlah meninggal 2.859 di seluruh dunia.

Wahyu menambahkan, prospek tembaga masih terancam karena belum menunjukkan rebound signifikan pada permintaan selama dua bulan pertama tahun ini. Ia juga menilai tembaga dapat menjadi komoditas yang merefleksikan perekonomian global.

Artinya, selama perekonomian global bergerak melambat, harga tembaga masih dalam tekanan.

Setali tiga uang, Analis HFX Berjangka Ady Pangestu mengatakan hal serupa. Jika kondisi global tidak berangsur membaik maka harga tembaga sulit pulih.

“Banyak faktor yang akan mempengaruhi harga tembaga. Tergantung kebutuhan industri, jika dalam kondisi normal harga sudah cukup rendah, namun jika kondisi memburuk, bahan tidak terolah sehingga terjadi penumpukan supply. Tidak menutup kemungkinan harga akan terus turun,” terang Ady.

Menurut Ady, virus corona telah merusak aktivitas ekonomi di China, yang merupakan konsumen logam terbesar di dunia. Produksi tembaga olahan China menyentuh level terendah dalam 20 bulan terakhir. Impor tembaga olahan China kemungkinan akan menurun tahun ini.

Ia juga menilai pembatasan mobilitas oleh China seperti liburan kerja serta penutupan wajib beberapa perusahaan tentu akan mengganggu secara signifikan pada rantai pasokan perusahaan.

Sehingga dampak kerugian karena banyak perusahaan yang tergantung dengan tembaga pada kuartal pertama 2020, tidak sepenuhnya bisa pulih pada kuartal kedua maupun ketiga.

Meski prospek tembaga dinilai kurang cerah tahun ini, kedua analis yakin untuk fundamental jangka panjang permintaan tembaga akan kembali pulih.

“Kebutuhan akan semakin membaik dan supply akan berkurang. Maka untuk jangka panjang masih ada harapan,” tutur Wahyu.

Permintaan terhadap tembaga tahun ini sendiri akan didorong oleh tren struktural pengembangan elektrifikasi. Elektrifikasi sendiri merupakan proses powering menggunakan listrik biasanya berhubungan dengan pengisian daya yang berasal dari sumber luar.

Selain itu, pengembangan energi terbarukan serta kendaraan listrik akan mendongkrak permintaan terhadap tembaga tahun ini.

“Pertumbuhan ekonomi di negara berkembang dengan perkiraan lebih dari 6 miliar penduduk akan mendorong produksi elektrifikasi, energi terbarukan serta kendaraan listrik. Seluruh produksi tersebut membutuhkan tembaga sebagai bahan dasarnya,” terangnya.

Ady juga menambahkan permintaan akan meningkat pasca ekonomi China berangsur pulih. Optimistis permintaan China terhadap tembaga juga akan meningkat tahun ini setelah fase pertama kesepakatan dagang ditandatangani.

“Sebelum wabah, pemerintah China telah merencanakan untuk memberikan dorongan bagi pertumbuhan ekonomi,” pungkasnya.

Wahyu memproyeksikan tembaga akan bergerak pada rentang US$ 5.400 hingga US$ 6.400 dengan catatan sentimen negatif global tak kunjung membaik.

Sedangkan Ady memprediksi harga tembaga akan bergerak pada rentang US$ 6.250 hingga US$ 6.500 sampai akhir tahun 2020.

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *