Wall Street Bergerak Tipis di Pasar Spot

  • Whatsapp
Dow Jones Industrial Average Turun 0,13% ke Level 27.114
Dow Jones Industrial Average.[net]

transbisnis.com | JAKARTA – Menjelang akhir pekan ini. Jumat (14/2) pukul 21.56 WIB waktu setempat Wall Street bergerak tipis di pasar spot.

Di mana Dow Jones Industrial Average menguat tipis 0,01% ke 29.429. Indeks S&P 500 menguat 0,09% ke 3.376. Sedangkan Nasdaq Composite menguat 0,10% ke 9,721.

Bacaan Lainnya

Investor menimbang efek virus corona terhadap ekonomi global setelah sejumlah perusahaan melaporkan terganggunya aktivitas bisnis. Sentimen positif pada pembukaan perdagangan Wall Street hari ini adalah laporan penjualan ritel dari Departemen Perdagangan Amerika Serikat.

Belanja ritel AS, termasuk mobil, bensin, bahan bangunan dan restoran naik 0,3% dari bulan sebelumnya. Departemen Perdagangan merevisi turun data penjualan ritel bulan Desember menjadi hanya naik 0,2% dari sebelumnya 0,5%.

Belanja konsumen mengontribusi dua pertiga aktivitas ekonomi AS. Ekonomi AS tumbuh 2,3% pada tahun lalu, melambat dari 2,9% di tahun sebelumnya.

Sementara data produksi industri turun 0,3% pada bulan Januari. Penurunan ini terutama disebabkan oleh produksi Boeing Co yang melambat.

Federal Reserve menyebutkan, produksi manufaktur turun 0,1% di bulan Januari. The Fed pun merevisi produksi manufaktur bulan Desember menjadi hanya naik 0,1% dari angka sebelumnya 0,2%.

Otoritas kesehatan China melaporkan lebih dari 5.000 kasus virus corona baru, menunjukkan bahwa epidemik virus ini belum melambat.

“Investor jelas mengamati penyebaran virus corona dan kemana saja penyebaran ini. Virus corona masih menjadi risiko terbesar selanjutnya,” kata Robert Pavlik, chief investment strategist and senior portfolio manager SlateStone Wealth LLC kepada Reuters.

Pavlik menambahkan bahwa rilis laporan keuangan emiten menjadi sentimen positif. “Tapi masih terlalu dini untuk memperkirakan pergerakan saham selanjutnya,” kata dia.

Kalaupun turun, Wall Street menuju penguatan mingguan kedua setelah mencetak rekor tertinggi. Rekor ini terutama disebabkan oleh laba kuartal keempat 2019 yang positif, serta keyakinan atas ekonomi AS.

Pos terkait