Dalam Sepekan, Rupiah Melemah 0,44%

  • Whatsapp
Kurs Dollar Rupiah di Bank Mandiri
Ilustrasi: Bank Mandiri.[net]

transbisnis.com | JAKARTA – Pada akhir pekan kedua Februari kurs rupiah menguat tipis setelah sempat melemah di beberapa hari sebelumnya.

Pada perdagangan Jumat (14/2), rupiah spot menguat tipis sebesar 0,01% ke Rp 13.693 per dolar Amerika Serikat (AS). Tapi dalam sepekan ini, rupiah melemah 0,13%.

Bacaan Lainnya

Kurs tengah Bank Indonesia (BI) mencatat rupiah melemah 0,20% ke Rp 13.707 per dolar AS pada hari ini. Dalam sepekan, rupiah melemah 0,44%.

Menurut Analis Monex Investindo Futures Ahmad Yudiawan menilai, pergerakan rupiah selama sepekan ini dipengaruhi oleh sentimen eksternal dan internal secara berimbang. Dari eksternal.

Dia melihat wabah virus corona masih sangat berpengaruh terhadap kekhawatiran pasar. Efeknya, aset-aset berisiko tertekan sehingga investor lebih memilih untuk memegang aset aman.

Wabah virus corona saat ini belum menandakan adanya kabar baik. Sebaliknya, jumlah korban yang terinfeksi virus corona di China pun terus meningkat. Per Jumat (14/2), jumlah korban meninggal akibat virus corona sebesar 1.380 orang sementara korban yang terinfeksi sebesar 63.851 orang.

Dari dalam negeri, pergerakan rupiah tak terlepas dari data neraca pembayaran Indonesia (NPI) yang berada dalam kondisi baik. BI mencatat NPI pada triwulan IV 2019 surplus sebesar US$ 4,3 miliar. Angka tersebut lebih baik defisit US$ 46 juta kuartal sebelumnya.

Peringkat utang juga baik sehingga Indonesia dipandang dalam kondisi yang stabil. Moody’s Investors Service meningkatkan level sovereign credit rating Indonesia. Dengan itu, Indonesia kini berstatus Baa2 dengan outlook stabil.

“Selain itu, disebabkan oleh faktor teknikal,” kata Yudi.

Head of Economic Research Pefindo Fikri C Permana memperkirakan, pekan depan mata uang global akan banyak dipengaruhi oleh kondisi politik AS yang mulai memanas.

Itu tak terlepas dari para kandidat calon presiden AS yang mulai bermunculan. Pemilihan presiden AS akan dilaksanakan pada November 2020 mendatang.

Fikri juga melihat volatilitas rupiah pada pekan depan akan sangat besar. “Kondisi global yang masih belum stabil,” kata Fikri.

Sementara itu, Yudi memprediksi rupiah masih akan berada di pergerakan yang terbatas atau tidak cukup lebar.

Meski begitu, Yudi melihat dengan rilisnya data BI Rate pada pekan depan akan menjadi modal bagi rupiah untuk bergerak menguat terhadap dolar AS.

Fikri memprediksi rupiah pada pekan depan akan bergerak di rentang Rp 13.610 per dolar AS hingga Rp 13.760 per dolar AS. Sementara Yudi menghitung, rupiah pekan depan akan bergerak di rentang Rp 13.620 per dolar AS–Rp 13.740 per dolar AS.

Pos terkait