Analis: Virus Corona Masih Menyengat Rupiah

transbisnis.com | JAKARTA Berdasarkan data perdagangan Kamis (13/2) Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah setelah menguat selama dua hari beruntun, rupiah terkoreksi 0,15% ke level Rp 13.694 per dolar AS.

Di mana para Analis memperkirakan, pelemahan rupiah masih akan berlanjut pada perdagangan Jumat (14/2) hari ini.

Sementara di perdagangan Jumat (14/2), analis Global Kapital Investama Alwi Assegaf memprediksi rupiah masih akan tertekan terhadap dolar AS. Selama isu virus corona belum dapat ditangani, rupiah masih akan cenderung melemah.

“Dolar AS akan terus dilirik di tengah isu virus karena perannya sebagai mata uang safe haven,” terang Alwi.

Faktor lain yang akan menekan rupiah adalah solidnya data-data ekonomi AS. Apalagi, AS juga akan merilis data inflasi atau Consumer Price Index (CPI).

Jika inflasi AS naik, The Fed semakin tak memiliki alasan untuk memangkas suku bunga. Pasar memperkirakan inflasi AS akan naik menjadi 2,5% yoy dari yang sebelumnya 2,3%.

Analis Monex Investindo Futures Ahmad Yudiawan juga mengatakan, pelemahan rupiah disebabkan fokus pasar terhadap penyebaran virus corona.

“Masih didominasi oleh faktor eksternal. Lagi-lagi karena ketakutan pasar terhadap ancaman virus corona,” terangnya.

Selain itu, di tengah merebaknya virus corona, investor cenderung memanfaatkan momentum untuk melakukan aksi ambil untung (profit taking). Rupiah sendiri rentan terhadap aksi ambil untung jika sudah menguat beberapa poin.

Ahmad memperkirakan rupiah akan bergerak pada rentang Rp 13.620 hingga Rp 13.745 per dolar AS pada Jumat (14/2).

Sedangkan Alwi memprediksi rupiah bergerak pada rentang Rp 13.660 hingga Rp 13.740 per dolar AS

Asal tahu saja, dalam laporan terakhir Pemerintah China, jumlah korban jiwa mencapai 242 orang dalam sehari di Provinsi Hubei. Jumlah tersebut melewati rekor sebelumnya sebesar 103 orang.

Selain wabah virus corona, faktor eksternal lain yang mendorong pelemahan rupiah adalah pernyataan optimistis dari Ketua The Fed Jerome Powell terhadap perekonomian Amerika Serikat (AS). Hal ini membuat pergerakan dolar AS semakin menguat.

“Powell mengatakan, ekonomi AS masih kuat dan tidak ada alasan bagi Bank Sentral AS untuk memangkas suku bunga,” jelasnya.

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *