Rupiah Spot Menguat 0,07%

transbisnis.com | JAKARTA – Berdasarkan data Bloomberg, pukul 16.13 WIB, rupiah pasar spot ke Rp 14.105 per dolar AS atau menguat 0,07%. Nilai tukar rupiah ditutup menguat di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu (4/12/2019) akhir perdagangan.

Sedangkan kurs di JISDOR nilai tukar rupiah melemah 0,04% di level Rp 14.125 per dolar AS. Pada perdagangan kemarin (3/12), kurs rupiah di pasar spot menguat 0,07% ke level Rp 14.115 per dolar AS. Namun, rupiah di kurs tengah Bank Indonesia (BI) justru melemah 0,05% menjadi Rp 14.130 per dolar AS.

Analis PT Monex Investindo Future Faisyal bilang, indeks manufaktur AS bulan November yang hanya berada di level 48,1 membuat the greenback tertekan. Mengingat proyeksi analis, indeks manufaktur AS bisa di kisaran 49,2

Ekonom PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C Permana menambahkan, untuk hari ini rupiah berpeluang melemah tipis. Sentimen datang dari data inflasi Indonesia bulan November yang masih rendah.

“Hal ini bisa dilihat sebagai daya beli masyarakat yang turun,” lanjut dia. Selain itu, rupiah menanti data indeks servis PMI China.

Fikri memprediksi, kurs rupiah hari ini bergerak di rentang Rp 14.070-Rp 14.170 per dolar AS. Sedangkan Faisyal memperkirakan, kurs rupiah berada di kisaran Rp 14.070-Rp 14.150 per dolar AS.

Di pasar mata uang Asia, dolar Yen dan franc Swiss mempertahankan penguatannya terhadap dolar karena selera untuk safe-havens melonjak setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan kesepakatan perdagangan dengan China mungkin tidak akan datang sampai setelah pemilihan presiden AS tahun 2020.

Yuan China (offshore) diperdagangkan mendekati titik terlemahnya terhadap dolar sejak Oktober karena memudarnya harapan untuk gencatan senjata dalam perang dagang antara dua ekonomi terbesar dunia ini.

Dolar secara melemah terhadap mata uang utama, yang membantu sterling naik ke level tertinggi lebih dari enam bulan terhadap greenback.

Pernyataan Trump bahwa ia “tidak memiliki tenggat waktu” untuk perjanjian dengan China melemahkan sentimen dan mengguncang pasar keuangan. Gesekan perang perdagangan dapat menyeret pertumbuhan global lebih lama daripada yang diantisipasi banyak investor.

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *