Dihadapan Dolar AS, Mayoritas Mata Uang Asia Layu

transbisnis.com | SINGAPURA – Pada transaksi Senin (2/12/2019) mayoritas mata uang Asia tak bertenaga menghadapi dollar AS. Kembalinya ketidakpastian di market terkait kesepakatan dagang fase satu AS-China menghapus sentimen positif yang berasal dari data ekonomi China.

Pelaku pasar sangat berhati-hati melangkah. Apalagi dengan semakin dekatnya batas waktu penerapan tarif sebesar 15% terhadap produk China oleh AS yang tinggal dua pekan lagi. Sementara, Beijing bersikeras menuntut untuk penghapusan tarif sebagai bagian dari kesepakatan dagang.

Data ekonomi China yang dirilis pekan ini menunjukkan kembalinya pertumbuhan aktivitas manufaktur China yang di luar dugaan. Kenaikan ini merupakan yang pertama dalam tujuh bulan terakhir, seiring naiknya tingkat permintaan domestik akibat dari kebijakan stimulus Beijing untuk mendongkrak pertumbuhan.

“Saya rasa perkembangan mengenai kesepakatan dagang fase satu menjadi hal yang sangat diperhatikan pasar saat ini. Pulihnya angka PMI China disambut baik…namun hal itu tidak mengubah fakta bahwa pertumbuhan ekonomi China akan terkena dampak perang dagang yang tengah berlangsung,” jelas Khoon Goh, head of Asia research ANZ Banking Group (Singapura) kepada Reuters.

Bagaimana pergerakan mata uang Asia siang ini?

-Won Korea Selatan sempat menguat sebesar 0,3% sebelum akhirnya bergerak flat. Tingkat ekspor bulan November Korsel anjlok untuk 12 bulan berturut-turut.

-Yuan China menguat tipis setelah gubernur bank sentral bilang bahwa China tidak akan menggunakan daya saing devaluasi yuan dan berniat untuk menahan yuan agar stabil secara luas.

Indeks harga konsumen Thailand mengalami kenaikan 0,21% pada November. Namun, masih di bawah target bank sentral Thailand di level 1%-4%.

-Rupiah Indonesia melemah 0,2%.
Tingkat inflasi tahunan Indonesia melambat untuk tiga bulan secara berturut-turut. Ini merupakan yang terendah sejak April.

-Rupe India tak banyak mengalami perubahan di level 71,71 per dollar AS.
Data yang dirilis pada Jumat pekan lalu menunjukkan pertumbuhan ekonomi tahunan India melambat ke level terendah sejak 2013 pada kuartal Juli-September. Hal ini menekan Perdana Menteri Narendra Modi untuk mempercepat reformasi.

Saat ini, market tengah menanti hasil pertemuan Reserve Bank of India pada pekan ini, di mana para ekonom memprediksi bakal ada pemangkasan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin.

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *