Walhi Sumut Komitmen Menjaga Ekosistem di Batang Toru

MEDAN – Selama 39 tahun Walhi (Wahana Lingkungan Hidup) Sumut tetap berjuang sendiri sejak awal bagian dari oposisi pemeritah hadir dalam melakukan kritikan dan masukan kepada pemerintah dalam memperbaiki tata kelola Sumber Daya Alam (SDA).

Meski pun PanEco sebagai mitra koalisi besar dalam aktifitas lingkungannya telah menjalin MoU dengan PT NSHE dalam pelestarian Orangutan.

“Bagi kita sebenarnya. Tidak masalah. Karena memang kita pernah menjadi mitra koalisi besar dalam aktifitas lingkungan. Itu mungkin bagian dari program juga mereka,” kata Direktur Walhi Sumut Dana Tarigan.

Dia menjelaskan, sejak awal Walhi terus berkomitmen untuk berjuang dalam persoalan lingkungan. Ditengah perjalanan, pihaknya membutuhkan bantuan ahli peneliti Orangutan dan di situlah mulai PanEco bergabung.

Sejak saat itu, Walhi bersama PanEco melakukan aktifitasnya. Dana menegaskan sebagai organisasi berbeda dengan yayasan atau NGO seperti PanEco.

“Mungkin ini ya. NGO boleh menerima CSR atau bantuan dari pemerintah dan dari perusahaan. Tetapi Walhi memiliki integritas dan larangan untuk menerima bantuan itu,” ucapnya.

Dana menyatakan ada beragam jenis binatang dan tumbuhan langka yang hidup di ekosistem Batang Toru. Kawasan itu mencakup lahan seluas 168.658 hektare (ha) yang terbagi dalam tiga daerah, yakni Kabupaten Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Tapanuli Utara.

“Jadi, di sana itu ada ancaman sekaligus tantangan, yakni minimnya data dan informasi potensi dan kendala di kawasan itu. Adanya aktivitas izin kontrak karya pertambangan Agincourt Resources, lemahnya komunikasi dan koordinasi lintas sektor, serta hilangnya habitat satwa penting yang dilindungi,” ujarnya.

Dana menjelaskan, kawasan ini memiliki nilai ekologis dan ekonomi yang penting sebagai daerah tangkapan air, serta untuk mencegah banjir, erosi, maupun tanah longsor. Masalahnya, saat ini ada ancaman terhadap kelestarian ekosistem tersebut.

“Pengelolaan ekosistem Batang Toru haruslah berhati-hati, mengingat kawasan ini menjadi sumber air bagi pertanian, habitat satwa kunci yang hampir punah, serta wilayah kelola rakyat dan upaya pemenuhan bagi tradisi dan spiritualitas adat,” jelasnya.

Presiden PanEco Regina Frey menuturkan, demi keberlangsungan Orangutan, Yayasan PanEco yang berpusat di Swiss dan perusahaan energi PT North Sumatra Hydro Energi bergabung kekuatan dengan Pemerintah Indonesia untuk mengamankan masa depan Orangutan Tapanuli yang baru-baru ini diidentifikasi, serta habitatnya di Ekosistem Batang Toru di Tapanuli.

Salah satu tujuan kerja sama ini adalah menerapkan strategi konservasi baru yang komprehensif untuk lebih dari 200.000 hektare habitat hutan kera baru tersebut, melalui suatu pendekatan multi-pihak.

Strategi baru ini akan mencakup pembangunan koridor hutan untuk menghubungkan habitat terfragmentasi, merestorasi hutan bekas tebangan, dan meningkatkan perlindungan kawasan yang saat ini belum dilindungi.

“Di seluruh dunia, ada tren dan tekanan publik kuat untuk mengubah ‘Bisnis seperti Biasa’ dengan pendekatan pembangunan baru dan lebih berkelanjutan. Kolaborasi ini menawarkan suatu peluang menarik untuk mengembangkan solusi model untuk mencapai tujuan dalam pembangunan berkelanjutan di daerah lain di dunia,” tuturnya.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK, Wiratno menyatakan sangat menyambut baik kemitraan baru ini dan akan melakukan yang terbaik untuk mendukung sepenuhnya dengan berkontribusi pada solusi masalah administrasi dan teknis.

“Saya menghargai semangat inklusif dari kolaborasi ini, merangkul pemerintah di semua tingkatan, LSM, kelompok masyarakat dan kearifan lokal terhadap lingkungan, termasuk satwa liar, ilmuwan, dan perusahaan melalui pendekatan lintas pemangku kepentingan,” ungkapnya.

Direktur Komunikasi PT NSHE Firman Taufick mengatakan bahwa kemitraan ini terjadi atas dasar saling pengertian tentang perlunya kerjasama antara sektor bisnis dan berbagai pemangku kepentingan. Firman Taufick menilai hal ini sangat penting untuk menemukan solusi bersama.

Profesor Carel van Schaik, seorang pakar orangutan dunia yang juga menjabat sebagai anggota dewan PanEco menambahkan bahkan tanpa adanya proyek PLTA baru ini, spesies orangutan Tapanuli yang hanya tersisa kurang dari 800 individu dalam populasi terfragmentasi, menghadapi masa depan suram.

“Dengan adanya Pemerintah Indonesia dan PT NSHE yang mendukung, kini ada potensi besar untuk mencari strategi konservasi baru yang akan menjamin perlindungannya serta habitat di Ekosistem Batang Toru, dalam jangka panjang,” jelasnya.

Seperti diketahui Yayasan PanEco suatu organisasi lingkungan berpusat Swiss, memiliki rekam jejak panjang dalam konservasi alam dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia, sejak tahun 70-an.

Pada tahun 1999, PanEco bekerja sama dengan mitra lokal di Indonesia, Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia (KLHK) membentuk Program Konservasi Orangutan Sumatera (SOCP).

Penelitian lapangan di Tapanuli Selatan sejak tahun 2000 dalam rangka program ini, menjadi dasar pada tahun 2017 ditemukan spesies baru orangutan, orangutan Tapanuli, Pongo tapanuliensis.

Dengan pemikiran tersebut, NSHE dan PanEco memasuki kemitraan baru dengan strategi konservasi jangka panjang yang komprehensif untuk melindungi Ekosistem Batang Toru secara utuh dan masa depan orangutan Tapanuli.

Untuk tujuan ini, sebuah Nota Kesepahaman (MOU) telah ditandatangani hari ini, yang didukung sepenuhnya oleh Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Indonesia.[analisa]

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *