Signal Telkomsel Jelajahi Titik Nol Kilometer Peradaban Islam Nusantara

Oleh Muhammad Darwinsyah Purba

Telkomsel menjadi operator telekomunikasi seluler terbesar di Indonesia dengan 139,3 juta pelanggan per 31 Desember 2014 dan pangsa pasar sebesar 51% per 1 Januari 2007. Jaringan Telkomsel telah mencakup 288 jaringan roaming internasional di 155 negara pada akhir tahun 2007.

Telkomsel meluncurkan secara resmi layanan komersial mobile 4G LTE pertama di Indonesia. Layanan Telkomsel 4G LTE memiliki kecepatan data access mencapai 36 Mbps. Saat ini Telkomsel menggelar lebih dari 100.000 BTS yang menjangkau sekitar 98% wilayah populasi di Indonesia. Sebagai operator seluler nomor 6 terbesar di dunia dalam hal jumlah pelanggan, Telkomsel merupakan pemimpin pasar industri telekomunikasi di Indonesia yang kini dipercaya melayani lebih dari 143 juta pelanggan pada tahun 2015-2016.

Dalam upaya memandu perkembangan industri telekomunikasi seluler di Indonesia memasuki era baru layanan mobile broadband, Telkomsel secara konsisten mengimplementasikan roadmap teknologi 3G, HSDPA, HSPA+, serta pengembangan jaringan Long Term Evolution (LTE). Kini Telkomsel mengembangkan jaringan broadband di 100 kota besar di Indonesia. Untuk membantu pelayanan kebutuhan pelanggan, Telkomsel kini didukung akses call center 24 jam dan 430 pusat layanan yang tersebar di seluruh Indonesia.

Dalam upaya menegakkan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan mengakselerasi pertumbuhan perekonomian masyarakat, Telkomsel secara konsisten menghadirkan infrastruktur jaringan di wilayah-wilayah terdepan dan terluar di Indonesia.

Sepanjang satu tahun terakhir, Telkomsel telah membangun lebih dari 120 base transceiver station (BTS) baru di daerah-daerah yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, sehingga secara total kini 753 BTS telah beroperasi melayani berbagai wilayah perbatasan di Indonesia.

“Kami yakin bahwa berkomunikasi dan saling terhubung merupakan hak seluruh masyarakat Indonesia, tanpa terkecuali. Sudah menjadi tanggung jawab kami untuk mempersatukan negeri secara berkesinambungan dengan terus membangun dan membuka akses layanan telekomunikasi di seluruh wilayah Indonesia, termasuk wilayah perbatasan negara. Penggelaran jaringan telekomunikasi yang menjangkau setiap jengkal wilayah Tanah Air ini kami lakukan untuk memerdekakan seluruh masyarakat Indonesia dari keterisolasian komunikasi,” kata Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah dalam siaran persnya hari ini.

753 BTS yang telah dibangun Telkomsel berlokasi di perbatasan dengan tujuh negara tetangga: 17 BTS berlokasi di Batam dan Bintan yang berbatasan dengan Singapura; 276 BTS berbatasan dengan Malaysia di Dumai, Rokan, Bintan, Karimun, Anambas, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Sumatera bagian Utara, Rokan Hilir; 70 BTS di Natuna dan Anambas berbatasan dengan Vietnam, 210 BTS di Nusa Tenggara Timur berbatasan dengan Timor Leste; 66 BTS di Pulau Rote dan Maluku berbatasan dengan Australia; 70 BTS di Sulawesi Utara berbatasan dengan Filipina; dan 44 BTS di Papua bagian Timur berbatasan dengan Papua Nugini.

Dari seluruh BTS di wilayah perbatasan negara tersebut, 240 BTS di antaranya hadir di lokasi-lokasi yang sebelumnya tidak tersentuh akses telekomunikasi. Di beberapa titik perbatasan, Telkomsel bekerjasama dengan pemerintah membangun untuk memajukan masyarakat di wilayah tersebut. Bahkan, untuk memberikan kenyamanan masyarakat dalam menggunakan layanan data, 177 BTS perbatasan telah dilengkapi teknologi mobile broadband berbasis 4G dan 3G.

Hadirnya layanan broadband bagi masyarakat setempat ini diharapkan dapat mendorong pembangunan di daerah perbatasan, di antaranya mempercepat pertumbuhan perekonomian dan kemasyarakatan, sekaligus mampu menjadi katalisator dalam mempromosikan potensi daerah, serta meningkatkan daya tarik investasi, peluang usaha, bahkan lapangan kerja baru.

Dengan jaringan yang tersebar hingga ke pelosok negeri, Telkomsel menghubungkan Indonesia melalui layanan telekomunikasi yang membuka berbagai kesempatan baru dan mendorong dampak sosial ekonomi yang positif bagi masyarakat.

Di sisi lain, melihat posisi penting wilayah-wilayah perbatasan yang secara geopolitik sangat strategis, kehadiran layanan Telkomsel di lokasi tersebut tentunya semakin memperkokoh terpeliharanya NKRI. Pembangunan infrastruktur telekomunikasi di pulau terluar maupun perbatasan negara merupakan bentuk dukungan Telkomsel dalam memelihara keutuhan NKRI, meningkatkan ketahanan nasional, sekaligus mempersatukan bangsa Indonesia yang tersebar di berbagai pulau yang ada di negara kepulauan ini.

Terbukanya akses komunikasi juga sangat membantu TNI khususnya dalam menunjang berbagai kegiatan operasional tentara yang bertugas di garda terdepan dalam menjaga keutuhan negara.

Secara nasional saat ini Telkomsel telah menggelar lebih dari 146.000 BTS hingga penjuru Tanah Air yang menjangkau hingga 95% wilayah populasi penduduk Indonesia. Dari jumlah tersebut, lebih dari 96.000 BTS di antaranya merupakan BTS 4G dan 3G untuk menjamin pelanggan menikmati layanan data yang berkualitas.

Berdasarkan pengalaman pribadi saat mengunjungi Kota Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Provinsi Sumatera Utara (Sumut) resmi ditetapkan sebagai Titik Nol Kilometer Peradaban Islam Nusantara melalui peletakan batu pertama pembangunan monumen tersebut oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi), Jumat (24/3) kemarin di kota belum lama ini. Ketika berada di Sibolga yang kurang lebih memakan waktu 2 jam hingga sampai di Sihorbo kampung halaman ayah saya yang setahu saya belum tersentuh jaringan komunikasi yang baik.

Bersama supir saya diriku bercerita tentang penetapan Barus sebagai Titik Nol Kilometer Peradaban Islam Nusantara yang digagas oleh Jam’iyah Batak Muslim Indonesia (JBMI) ini oleh Presiden RI Jokowi langsung, merefleksikan pengakuan bangsa Indonesia bahwa Kota Barus atau yang dikenal Fansuri yang sejak dari dulu ini menjadi bahan perdebatan, baik di dunia nyata seperti di tengah-tengah ahli sejarah dan arkeolog maupun di dunia maya, benar sebagai pintu gerbang masuknya Islam pertama kali di nusantara. Bukan di daerah atau di pulau lain di Indonesia.

Penetapan Barus sebagai Titik Nol Kilometer Peradaban Islam Nusantara didasari oleh sejarah hubungan antara leluhur/nenek moyang bangsa Indonesia dengan saudagar atau pedagang-pedagang asal Timur Tengah (Timteng) yang sudah ada sejak abad VI atau 600 masehi atau sekitar 48 H. Hubungan yang terjalin berupa hubungan dagang berupa hasil alam (komoditi alam) seperti kemenyan dan kapur Barus asal dari Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), yang diketahui dipergunakan oleh bangsa Timur Tengah kala itu sebagai salah satu bahan pengawet jenajah atau yang disebut dengan mummi.

Mummi-mummi (jenajah yang diawetkan) yang ada di Mesir, itu bisa diawetkan karena kapur Barus yang dibawa langsung dari Barus. Ditengah hubungan dagang itu, diduga telah terjadi proses siar agama Islam oleh para saudagar atau pedagang – pedagang asal Timur Tengah dengan nenek moyang/leluhur bangsa Indonesia yang ada di Barus. Hal ini kata Jokowi bisa dibuktikan dari bukti sejarah keberadaan salah satu makam para ulama siar Islam asal Timur Tengah yang ada di Barus.

Disitu banyak dimakamkan Syekh (ulama besar) dari Timur Tengah. Itu menandakan bahwa peradaban, perdagangan dan siar agama itu sudah dimulai sejak beratus – ratus tahun lalu. Sehingga kita tahu semuanya bahwa Barus merupakan tempat pertama kalinya Islam mulai disebarluaskan di bumi nusantara. Nyaris lupa untuk menelepon abang sepupu karena terlalu asyik menceritkan kota tua Barus yang terlupakan oleh sejarah bangsa ini.

Cerita punya cerita, saya langsung menelpon abang sepupu Sumarto Purba yang berada di Barus karena saya sudah memasuki kota Sibolga.

“Horas ! abanda? Saya ini saya sudah di Sibolga masih dalam perjalanan menuju Barus,” bilang dalam telpon dengan semangat karena jaringan begitu jernih dan jelas menerima telepon dari saudara sepupuku tersebut.

“Iya kami tunggu adinda sayang, kami sudah sejak tadi menunggu telepon darimu,” jawab si abang.

“Ya aku kira jaringan disana nggak begitu bagus jadi nanti aja lah aku telepon kalau sudah dekat rumah tapi ternyata bisa kok! heran juga aku sih?,” tegasku.

“Bah ! disini Telkomsel udah bagus amang, nggak seperti dulu, ya..jangan sms-an atau telepon ber-internetan pun bisa di Barus ya berkat Telkomsel komunikasi masyarakat sudah bagus dan tidak lagi harus manjat gunung atau naik ke atas pohon untuk menelpon sanak family di mana pun berada,” ucap Bang Marto dengan nada seperti sales Telkomsel aku mendengarnya.

“Keren ! Donk! kalau gitu aku masih bisa kerja di Barus bang, soalnya aku harus meng-update informasi setiap saat. Mantap ! juga Telkomsel ini rupanya ya?,” dengan nada senang ternyata di Barus juga sudah ada jaringan internetnya.

“Kami di sini sudah bisa facebook-an, main istagram, baca situs-situs berita lainnya dan beberapa kawan-kawan abang yang petani sudah bisa menjual hasil pertaniannya dan memperkenalkan dagangannya melalui internet lho. Uda paten lah! kampung kita sekarang uda melek internet berkat Telkomsel ini,” papar Marto.

“Oke bang! tunggu saya ya di Barus, sampai ketemu di rumah ya, Horas !,” tutupku.

Selama diri saya berada di Barus aktivitas sehari-hari tidak terganggu dan tetap bisa berkomunikasi dengan temen-temen di Medan dan Jakarta serta tetap bisa menjalin silaturahmi kepada temen-temen dimana pun berada.

Tahun ini rencananya Telkomsel akan membangun sebanyak 63 Base Transceiver Stations (BTS) di lokasi-lokasi pelosok melalui program Merah Putih. Sebanyak 63 BTS Merah Putih yang akan digelar Telkomsel pada tahun ini tersebar di berbagai wilayah Indonesia, seperti di NTT (16 BTS), NTB (7 BTS), Maluku (11 BTS), Sulawesi (21 BTS), Papua (5 BTS), dan Kepri (3 BTS).

Hadirnya 63 BTS baru di lokasi-lokasi tersebut diharapkan akan mampu melayani kebutuhan komunikasi dari sekitar 120.000 warga masyarakat yang sebelumnya memiliki kesulitan dalam mengakses layanan telekomunikasi.

Adapun sejak diluncurkan pertama kali di tahun 2008, proyek Telkomsel Merah Putih telah berhasil membuka jaringan di sekitar 450 lokasi dari ujung Barat hingga ujung Timur Indonesia, yang terus ditingkatkan layanannya dari sisi kualitas dan kapasitas.

“Sejak awal beroperasi 22 tahun yang lalu, Telkomsel memiliki visi untuk menyatukan Indonesia melalui hadirnya layanan telekomunikasi di berbagai lokasi di Indonesia, sehingga masyarakat bisa saling terhubung kapan pun dan di mana pun. Komitmen ini terus kami pertahankan hingga saat ini, dimana kami konsisten membangun daerah-daerah pelosok agar tidak terisolasi dari sisi telekomunikasi,” kata Direktur Utama Telkomsel, Ririek Adriansyah dalam siaran persnya hari ini.

Lebih lanjut Ririek menambahkan saat ini telekomunikasi tidak hanya menjadi kebutuhan utama masyarakat di kota besar namun juga hingga ke pelosok. Untuk itu kami pun terus berupaya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat melalui layanan seluler yang kami hadirkan, sehingga lebih banyak lagi masyarakat di pelosok yang dapat menikmati layanan telekomunikasi dengan standar kualitas yang sama dengan wilayah lainnya di seluruh Indonesia. Kami berharap hadirnya layanan ini dapat turut mendorong perubahan yang lebih baik di berbagai sektor di wilayah terkait.

Di program Merah Putih, Telkomsel menerapkan teknologi berkonsep remote solution system yang dinamakan: Very Small Aperture Terminal-Internet Protocol (VSAT-IP) yang berbasis satelit ditambah dengan teknologi power supply yang menggunakan solar panel system. Teknologi ini merupakan solusi layanan komunikasi yang cocok untuk diterapkan di daerah terpencil dengan infrastruktur yang sangat terbatas dan kondisi geografis yang sangat ekstrim, seperti pedesaan dan wilayah terdepan Indonesia. Dengan diimplementasikannya teknologi ini, pelanggan dapat menikmati layanan suara, SMS, dan data dengan kualitas yang memadai.

Related Posts

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Theme Settings

Please implement Expnews_Options_menu_location_multi_select::getCpanelHtml()

Please implement Expnews_Options_multi_select::getCpanelHtml()