Alfatah Bocah Penderita Hidrosefalus Butuh Bantuan Anda

TransBisnis.Com – Medan | Alfatah bocah berusia 5 tahun warga Jalan Sementok, Simpang Opak sebelum SMP 2 Kuala Simpang, Aceh Tamiang ini, menderita penyakit Hidrosefalus atau kondisi penumpukan cairan di dalam otak yang mengakibatkan meningkatnya tekanan pada otak.

Secara harfiah penyakit Hidrosefalus berarti adanya cairan di dalam otak. Cairan serebrospinal biasanya mengalir melalui ventrikel dan menggenangi otak dan tulang belakang.

Anak dari pasangan Putra Mustapa (32) dan Wahidanul (47) ini, sangat membutuhkan uluran bantuan, untuk menyembuhkan penyakit Hidrosefalus yang diderita oleh Alfatah.

Ibu Alfatah, Wahidanul mengatakan sudah selama dua minggu terakhir berada di Kota Medan, untuk mencari bantuan terhadap pengobatan Alfatah, yang tidak lain merupakan anak pertamanya tersebut.

“Sementara ini, kami tinggal berpindah-pindah numpang tempat orang selama di Medan. Kartu keluarga masih warga Medan, karena anak masih dalam berobat,” kata Wahidanul.

Ia menambahkan, bahwa rencananya mau balik dulu ke Kuala Simpang, karena sudah tidak ada biaya bertahan hidup di Medan untuk mencari biaya perobatan anak.

“Sudah capek kali kesana kemari bawa anak, rencana mau balik dulu ke Kuala Simpang. Karena mau menyewa rumah pun tidak ada uang. Soalnya suami belum dapat kerja di Medan. Kami sudah minta bantuan ke Kantor Walikota dan Dinas Sosial tidak ada tanggapan. Jenuh saya, kayak tidak ada artinya saya sebagai warga Medan,” ujar Wahidanul.

Wahidanul menjelaskan bahwa Alfatah merupakan anak pertamanya, yang sudah menderita sakit Hidrosefalus sejak lahir. Bahkan sekitar bulan Februari 2018 lalu, Alfatah sempat diinapkan di RSUP Haji Adam Malik Medan untuk di operasi kaki. Cuma dibatalkan karena perkembangan badan belum membaik.

“Saya butuh bantuan untuk perkembangan anak, untuk beli susu biar dia kuat, sehat.
Apalagi suami tidak ada kerjanya jadi tidak berani menyewa rumah di Medan. Kami disini tidak punya tempat tinggal menetap,” sebutnya.

Sementara itu, ayah Alfatah, Putra mengatakan sehari-harinya ia hanya bekerja sebagai kuli mengangkat pasir yang telah di sedot dari Sungai Tamiang. Kemudian sesampainya di darat diangkut menggunakan sekop diangkat ke mobil truk.

“Sehari saya bisa mendapatkan penghasilan rata-rata Rp 50-80 ribu. Tapi tidak hampir tiap hari. Kadang dapat, malah kadang tidak dapat sama sekali kalau saat hujan deras turun,” kata Putra.

Ia menceritakan selama hidup di Aceh Tamiang, kehidupan keluarga kecil ini juga terbilang pas-pasan. Walaupun status rumah yang ditempati milik sendiri, namun akses listrik belum ada. Tetapi hal itu bukan disebabkan karena listrik belum masuk di lingkungan rumah, melainkan belum adanya biaya untuk memasukkan listrik.

“Rumah kami belum masuk listrik, jadi kalau malam tiba kondisi rumah masih gelap. Terpaksa pakai lampu teplok dan terkadang lilin,” ujarnya.

“Harapan saya, semoga anak ada yang bantu biar cepat sembuh. Karena saya sendiri jujur saja nyari kerja payah dan untuk menafkahi keluarga masih susah,” tutup Putra.

Related Posts

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Theme Settings

Please implement Expnews_Options_menu_location_multi_select::getCpanelHtml()

Please implement Expnews_Options_multi_select::getCpanelHtml()