USU Tandatangani MoU Percepatan Pembangunan Proyek PLTA Batangtoru

Berita Medan – Universitas Sumatera Utara (USU) dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tapanuli Selatan menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) untuk mempercepat proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dengan kapasitas 510 Mega Watt (MW) di Batangtoru, Tapanuli Selatan (Tapsel), yang dikelola oleh PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE), kemarin.
Penandatanganan MoU dilakukan oleh Direktur PT NSHE Sarimuddin Siregar, Rektor USU Prof Runtung, SH M Hum dan Bupati Tapsel Syahrul M. Pasaribu, disaksikan Ketua Komisi VII DPR RI Gus Irawan Pasaribu, Ketua MWA USU Panusunan Pasaribu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sumatera Utara Binsar Situmorang, Wakil Rektor III USU Drs
Mahyuddin K M Nasution, MIT, Ph D, Wakil Rektor IV USU Prof Dr Ir Bustami Syam, MSME dan Wakil Rektor V USU Ir Luhut Sihombing, MP.
Prof Runtung menyambut baik dilakukannya penandatanganan MoU dan mengklaim PT NSHE tidak salah memilih USU sebagai mitra untuk memberikan masukan dan bahkan kritikan, bila proyek pembangunan PLTA tersebut tidak berjalan semestinya. “MoU ini tidak akan berarti bila tidak ditindaklanjuti dengan kerjasama. Karena secara moral, USU memang harus dilibatkan untuk membangun Sumut,” paparnya di acara tersebut.
Prof Runtung menyakini bahwa PLTA Batang Toru itu nantinya akan memberikan nilai tambah, tidak hanya bagi masyarakat sekitar, namun juga bagi masyarakat Sumatera Utara dan bahkan Sumatera seluruhnya. Karena kapasitas tenaga listrik yang akan dihasilkan oleh PLTA itu sebesar 510 MW, atau lebih besar dari tenaga listrik yang dihasilkan dari kapal pembangkit listrik (Marine Vessel Power Plant – MVPP) Onur Sultan, yang berkapasitas 240 MW. Kapal itu disewa oleh PT Pembangkit Listrik Negara (PLN) dari Pemerintah Turki selama lima tahun.
“Dengan catatan, pendekatan kepada masyarakat harus dilakukan. Maka, kehadiran PLTA ini akan menjadi nilai tambah kepada masyarakat. Bisa jadi, kawasan PLTA itu juga nantinya akan dijadikan sebagai kawasan wisata,” ujarnya.
Bupati Tapsel, Syahrul M. Pasaribu mengungkapkan, untuk memastikan kelayakan Analisis Dampak Lingkungan (Amdal) dari proyek pembangunan PLTA Batang Toru tersebut, ia mengundang para akademisi untuk meninjau langsung ke lapangan, khususnya kalangan peneliti USU.
Diharapkan para akademisi dari USU bisa memberikan saran dan kritik yang tidak bias, karena tidak memiliki kepentingan apapun selain daripada kepentingan ilmu pengetahuan. Bagaimanapun, keberadaan PLTA Batang Toru merupakan bagian dari program prioritas nasional untuk mengatasi masalah kelistrikan nasional.
Diketahui, PLTA Batangtoru adalah pembangkit listrik yang masuk dalam kategori energi baru terbarukan. PLTA ini dirancang dan dikembangkan sebagai bentuk kepedulian NSHE dalam mengantisipasi perubahan iklim (climate change) dan pemanasan global (global warming), yang telah menjadi isu penting di seluruh dunia sejak beberapa tahun terakhir.
“Kami mengundang para akademisi USU untuk melihat secara objektif secara langsung ke lapangan, baru memberikan saran dan kritikan, supaya kritikannya tidak bias. Karena, niat kita untuk pembangunan, bukan untuk mencari pemasukan dari kritikan tersebut,” ungkapnya.
Syahrul M. Pasaribu menambahkan, walau secara geografis PLTA Batang Toru tersebut melintasi tiga kabupaten diantaranya Tapsel, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Utara, namun secara eksisting, PLTA Batang Toru itu berada di Tapsel, makanya, Pemkab Tapsel ditunjuk sebagai liason officer-nya.
Selain itu, lokasi PLTA juga berada di habitat orangutan. Untuk itu, Pemkab Tapsel dan PT NSHE berupaya semaksimal mungkin untuk mencari jalan terbaik, agar keberadaan orangutan tidak terganggu dan proyek PLTA Batang Toru bisa berjalan maksimal.
Syahrul M. Pasaribu juga menegaskan bahwa lokasi PLTA Batangtoru murni berada di hutan APL (Area Penggunaan Lain), bukan di kawasan hutan lindung dan cagar alam.
“Sebagai bupati, proyek PLTA ini saya anggap penting yang direncanakan akan selesai dalam 5 tahun mendatang. Begitu selesai, maka PLTA Batang Toru ini bisa menggantikan keberadaan kapal pembangkit listrik dari Turki di Belawan itu,” tandasnya.
Direktur PT NSHE, Sarimuddin Siregar, juga menjawab kekhawatiran sejumlah pihak atas kelangsungan hidup orangutan Tapanuli dan ekosistem Batangtoru seluas 140.000 Ha.
Menurut Sarimuddin Siregar, proyek PLTA Batangtoru berada di area penggunaan lain (APL) di luar hutan dengan menggunakan lahan seluas 121 Ha (lahan bangunan 55 Ha dan luasan genangan maksimal 66 Ha).
Dengan demikian total luas proyek PLTA Batangtoru hanya 0,09% dari ekosistem Batangtoru yang merupakan habitat orangutan. Oleh karena itu, sangat kecil kemungkinannya menyebabkan kepunahan orangutan Tapanuli.
“Pembangunan PLTA Batang Toru itu merupakan pembangunan PLTA terbesar di Sumatera yang bertujuan untuk mengatasi krisis listrik di Sumatera Utara,” paparnya.
Diketahui, PLTA Batangtoru dirancang dan dikembangkan dengan daya terpasang 510 MW yang berasal dari kolam harian berukuran kecil seluas 90 hektar. Genangan pada kolam harian berukuran kecil itu terdiri dari 24 hektar badan sungai yang sudah ada dan 66 hektar tambahan area yang akan menggenangi daerah sangat curam dan tidak terdapat pemukiman penduduk.
Setelah beroperasi, diperkirakan proyek PLTA Batangtoru akan memberikan penghematan kepada belanja bahan bakar minyak pemerintah sebesar USD350-400 juta per tahun karena pengurangan penggunaan bahan bakar fosil. PLTA Batangtoru merupakan proyek dengan sifat renewable energy, akan ikut berkontribusi bagi keinginan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 1,6 juta metrik ton dari target 4,4 juta metrik ton.
“PLTA Batangtoru akan menyerap kurang lebih seribu tenaga kerja selama masa pembangunan dan memberikan dampak multiplier ekonomi, baik secara langsung maupun tidak langsung kepada penduduk dan sektor usaha formal maupun informal di sekitar Kawasan Batangtoru,” pungkas Bupati.
Ketua Komisi VII DPR RI, Gus Irawan Pasaribu, yang turut hadir di acara penandantanganan MoU mengungkapkan bahwa pihaknya siap mengawal proyek pembangunan PLTA Batangtoru, selama proyek berada di jalur yang benar. Gus Irawan Pasaribu juga meminta kepada PT NSHE untuk tidak merusak lingkungan dalam proyek pembangunan dan mengoperasikan PLTA itu nantinya.

Ia mengingatkan, bila ada oknum yang coba menghalangi proyek pembangunan PLTA hanya untuk mencari uang semata, maka harus dihadapi bersama.

Related Posts

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Theme Settings

Please implement Expnews_Options_menu_location_multi_select::getCpanelHtml()

Please implement Expnews_Options_multi_select::getCpanelHtml()