Merah Putih Mulai Tenggelam di Ufuk Khatulistiwa

Merah Putih Mulai Tenggelam di Ufuk Khatulistiwa

Oleh Mhd Darwinsyah Purba 

Saat dibangku sekolah dasar setiap tiba hari Senin disekolahku, kami melaksanakan upacara bendera sebagai rutinitas bagi kami sebagai tunas bangsa. Sambil aku berjalan menyelusuri pematang sawah bersama sahabat-sahabatku menyanyikan lagu tanah air kami yaitu ‘Indonesia Raya’ ciptaan pahlawan kita Wage Rudolf Supratman.

Ketika, tiba disekolah sang saka merah putih mulai dilepaskan menuju angkasa raya kami dengan semangat 45 melantunkan dengan lantang sehebat badai di lautan biru sehingga menggemakan dengan semangat bahwa kami semua anak bangsa saat itu cinta sang saka merah putih.

“Saya Merah Putih, Kami Merah Putih, Kita Semua Merah Putih dari Sabang hingga Marauke tiada kata abu-abu kita selain kalimat mulia ini. saya Merah Putih jika kita lupa merah putih siapakah diri kita,?”

Kala itu, usia masih belia yang sehari-hari tempat bermain di sawah, kami bukan bermain di mall-mall seperti saat ini. Meski bermain bersama lumpur kami tidak lupa sambil mendendangkan lagu-lagu nasional yang membuat semangat merah putih kami selalu berkobar-kobar hingga saat ini.

Sang Saka Merah Putih merupakan julukan kehormatan terhadap bendera Merah Putih negara Indonesia. Pada mulanya sebutan ini ditujukan untuk Bendera Pusaka, bendera Merah Putih yang dikibarkan pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta, saat Proklamasi dilaksanakan. Tetapi selanjutnya dalam penggunaan umum, Sang Saka Merah Putih ditujukan kepada setiap bendera Merah Putih yang dikibarkan dalam setiap upacara bendera.

Bendera pusaka dibuat oleh Ibu Fatmawati, istri Presiden Soekarno, pada tahun 1944. Bendera berbahan katun Jepang (ada juga yang menyebutkan bahan bendera tersebut adalah kain wool dari London) yang diperoleh dari seorang Jepang. Bahan ini memang pada saat itu digunakan khusus untuk membuat bendera-bendera negara di dunia yang berukuran 274 x 196 cm.

Sejak tahun 1946 sampai dengan 1968, bendera tersebut hanya dikibarkan pada setiap hari ulang tahun kemerdekaan RI. Sejak tahun 1969, bendera itu tidak pernah dikibarkan lagi dan sampai saat ini disimpan di Istana Merdeka. Bendera itu sempat sobek di dua ujungnya, ujung berwarna putih sobek sebesar 12 X 42 cm. Ujung berwarna merah sobek sebesar 15x 47 cm. Lalu ada bolong-bolong kecil karena jamur dan gigitan serangga, noda berwarna kecoklatan, hitam, dan putih. Karena terlalu lama dilipat, lipatan-lipatan itu pun sobek dan warna di sekitar lipatannya memudar.

Setelah tahun 1969, yang dikerek dan dikibarkan pada hari ulang tahun kemerdekaan RI adalah bendera duplikatnya yang terbuat dari sutra. Bendera pusaka turut pula dihadirkan namun ia hanya ‘menyaksikan’ dari dalam kotak penyimpanannya.

Sang Saka Merah Putih, Sang Merah Putih, Merah Putih, atau kadang disebut Sang Dwiwarna (dua warna). Bendera Negara Sang Merah Putih berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran lebar 2/3 (dua-pertiga) dari panjang serta bagian atas berwarna merah dan bagian bawah berwarna putih yang kedua bagiannya berukuran sama.

Apa sesungguhnya makna di balik dua warna bendera Indonesia, benarkah artinya sekadar berani dan suci? Darah dan tulang?

Bendera Merah Putih itu hasil dari kebetulan saja. Kebetulan karena Belanda, yang menjajah Indonesia, memiliki bendera merah, putih dan biru. Kalau birunya disobek, jadilah Merah Putih. Setidaknya, begitulah, sekolah menceritakan makna tersebut secara terus-menerus sehingga kita begitu menyakininya.

Bagi Bung Karno, orang yang membacakan deklarasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Merah Putih tidak sesederhana itu. Ia bahkan berwasiat agar Merah Putih menjadi warna bendera Indonesia selamanya.

“Aku minta kepadamu sekalian, janganlah memperdebatkan Sang Merah Putih ini. Jangan ada satu pihak yang mengusulkan warna lain sebagai bendera Republik Indonesia,” kata Bung Karno dalam pidatonya di hadapan rakyat Surabaya pada 24 September 1955. Judul pidatonya ‘Apa Sebab Revolusi Kita Berdasar Pancasila’.

Menurut Bung Karel sang proklamator RI, Merah Putih bukanlah buatan Republik Indonesia. Bukan pula buatan tokoh-tokoh di zaman pergerakan nasional. Bukan buatannya Bung Karno, bukan buatannya Bung Hatta. Enam ribu tahun sebelum Indonesia Merdeka manusia yang hidup di tanah air Nusantara sudah memberi makna pada Merah Putih.

“Bukan seribu tahun. Bukan dua ribu tahun. Bukan tiga ribu tahun, bukan empat ribu tahun, bukan lima ribu tahun! Enam ribu tahun kita telah mengenal warna Merah Putih!”

Saat ini, generasi zaman now selalu membanggakan bendera kebangsaan dari negara lain ketika piala dunia tiba menghantui dunia hingga terlupa akan warna bendera kebangsaannya sendiri. Naif, memang dan miris memang dengan kondisi seperti ini tapi begitulah realita terjadi merah putih mulai terlupakan dan tenggelam di ufuk khatulistiwa bersama generasinya yang semakin ditenggelamkan perkembangan zaman.

Terlintas sebuah kenangan masa kanak-kanakku, terkadang kami di atas pundak kerbau sambil mengembala di temeni tuan senja hendak pulang ke rumah kami bersama teman-teman menyanyikan lagu wajib nasional karangan Ibu Sud yaitu Berkibarlah Benderaku di bawah langit tuhanku.

Berbeda dengan zaman now ini para generasi milenial malah jalan-jalan ke mall-mal untuk mencari jati dirnya dalam membangun karaktek dirinya wajar saja generasi saat ini tertinggal dengan bangsa lain di mana bangsa lain disibukan dengan penemuan-penemuan terbaru dalam membangun bangsa.

Makna dan hakekat bendera merah putih mulai memudar dalam kehidupan bangsa ini. Banyak penyebabnya, misal saja untuk upacara bendera yang hanya dilakukan setahun sekali, malah ada sekolah yang meniadakan upacara tanggal 17 Agustus. Apapbi melirik ke angkatan 80-an, dari tingkat sekolah dasar setiap hari senin selalu ada upacara. Kalau saya pribadi, tetap mengusulkan upacara diadakan minimal sebulan sekali.

Ada yang bilang capek deh, tapi kalau jalan-jalan di mall tanpa tujuan bisa sampai berjam-jam. Ada yang bilang panas, tapi kalau nonton konser facebooker rela ambil posisi paling depan. Ada yang bilang tidak ada gunanya, tapi kalau ada indikasi separatis di daerah tertentu malah menyalahkan pemerintah. Kan repot punya generasi seperti iji.

Naifnya, malah ada yang menganggap bendera sebagai kelengkapan untuk tanggal 17 Agustus-an. Kalau gak ada bendera, jadinya gak komplit. Harus taruh bendera ukuran kecil, sedang, besar sebanyak mungkin, tapi apa gunanya kalau tidak ada tumbuh nasionalisme dihati.

Ada yang menganggap bendera itu untuk barang jualan. Ini ditujukan kepada pedagang. Tidak ada yang salah sih. Mereka menjual bendera itu dengan motivasi meraup untung yang besar, tapi tidak ada motivasi untuk menyebarkan rasa kebangsaan bagi anak cucu.

Pernah suatu kali saya sangat tersentuh dengan iklan singkat dari adik tingkat tentang bendera. Ceritanya ada anak yang remaja Indonesia yang tinggal di perbatasan Indonesia-Malaysia. Saat dia melewati pasar Malaysia, dia kaget sekali karena ada seorang pedagang Malaysia yang berjualan, namun alas yang digunakan untuk menjual itu adalah kain berwarna merah putih.

Lalu dia mencoba untuk menerangkan kepada penjual itu untuk tidak melakukan hal demikian. Namun apa daya penjual itu hanya berpikir untuk berjualan. Lalu remaja ini pergi dengan tekad yang sangat kuat untuk mengambil kain itu. Dia tidak terima dengan perlakuan itu, akhirnya dia mulai bekerja keras untuk merebut kain itu.

Lalu dia datang kembali ke pasar tersebut dan dia tidak melihat penjual akhirnya dia mencari cari dengan cemasnya. Pada suatu simpang dia melihat penjual itu dan memanggil, lalu penjual itu berhenti. Dan anak ini meminta untuk melihat barang jualan nya, dan semua barangpun digelar, lalu anak itu bertanya berapa harga kain merah putih yang menampung jualan itu. Lalu mereka sepakat dengan sebuah harga, lalu anak inipun membayarnya.

Setelah itu dia mendapatkan kain merah putih itu. Lalu anak ini berlari-lari tersenyum dengan girangnya seraya memegang kedua ujung bendera, yang membuat bendera itu berkibar. Ternyata kain itu adalah bendera merah putih kebanggaannya. Diakhir iklan dikisahkan bahwa remaja tersebut bekerja beberapa hari untuk mendapatkan uang yang dipakai untuk mengambil kembali merah putih itu, mengambil kembali kehormatan dari lambang pemersatu bangsa Indonesia.

Berkibarlah benderaku
Lambang suci gagah perwira
Di seluruh pantai Indonesia
Kau tetap pujaan bangsa

Siapa berani menurunkan engkau
Serentak rakyatmu membela
Sang merah putih yang perwira
Berkibarlah Slama-lamanya

Kami rakyat Indonesia
Bersedia setiap masa
Mencurahkan segenap tenaga
Supaya kau tetap cemerlang

Tak goyang jiwaku menahan rintangan
Tak gentar rakyatmu berkorban
Sang merah putih yang perwira
Berkibarkah Slama-lamanya

Sambil membuat bendera dari kertas minyak dengan mencoreng-coreng wajah bak prajurit yang ingin bertempat di Medan perang dengan semangat “Hidup mulia atau mati syahid” dengan senjata terbuat dari pelepah pisang di design sedemikian rupa menjadi pistol maupun senapang bergegas melawan penjajah yang ada dipelupuk NKRI.

“Serbu…!!!”
“Merdeka…!!!”
“Lindungi sang saka Merah Putih dari tangan-tangan penjajah !!”

Selintas, memori ini memasuki alam sadarku yang perlahan mengingat betapa masa itu kami begitu mencintai bangsa ini. Meski sebatas melakoni drama kecil para pahlawan namun saat itu kami menjadi gagah dan berani menyerukan dan menjaga merah putih tersebut. Tapi, ketika menoleh ke arah hari ini dan kedepan sesak seraya dada ini melihat kondisi 360 derajat generasi zaman now larut ke dalam genggaman perkembangan zaman yang tidak berbentuk apapun.

Semangat merah putih usang di mata tunas bangsa saat ini. Bayangkan, mereka mencintai bendera bangsa lain, mereka lebih hafal lagu-lagu yang diadopsi dari negara lain tanpa mencinta lagu kebangsaan dan karya anak bangsa.

Mencintai tanah air bukan pekerjaan yang sulit bagi anak-anak. Bersikap antinarkoba, menggunakan internet yang sehat, dan membangun kerukunan di antara sesama teman merupakan bentuk cinta tanah air yang nyata. Namun, ketiga bentuk nyata itu tidak bisa dilepaskan dari peran orangtua dalam wujud pengawasan dan arahan dari seorang ayah bunda yang disebut keluarga.

Jika anak-anak didorong untuk bergaul dengan rekan sebaya untuk tidak menjadi egois karena internet dan sekaligus peka akan perubahan sikap yang terjadi pada anak-anak. Selain itu, anak-anak harus mendapat keteladanan dalam menghargai mereka yang berjasa, terutama dengan belajar sejarah. Jika generasi baru tidak pernah mendapatkan arah untuk belajar sejarah. Indonesia kelak akan dipimpin oleh orang-orang yang tidak tahu tentang Indonesia, generasi yang tidak tahu akan pahlawannya.

So…. Jangan berharap dapat mencapai prestasi kalau tidak rukun. Kalau rukun apa saja bisa dilakukan, dicapai dan diraih. Tetapi kerukunan tidak mungkin terwujud kalau saling membedakan warna kulit, suku, ras atau juga agama. Semua sama tidak ada bedanya. Lalu kerukunan juga akan memunculkan sikap positif, saling tolong menolong, saling menghormati, saling mengasihi dan bukan membenci itulah semangat merah putih yang menjunjung tinggi kebhinekaan Tunggal Ika.

Berdasarkan survei yang diadakan Lembaga Survei Indonesia (LSI) menunjukkan, 96,1 persen responden merasa bangga, bahkan sangat bangga menjadi orang Indonesia. Hasil survey terhadap 1.680 responden, dengan metode multistage random sampling (margin of error sekitar 3 persen) ini diangkat kembali di Koran Tempo, Rabu (21 Mei 2008).

Mayoritas responden (73,7 persen) juga lebih bangga disebut sebagai orang Indonesia ketimbang disebut sebagai orang dari suku tertentu. Hanya 25,6 persen yang mengaku lebih bangga disebut sebagai orang yang berasal dari etnis asal (hasil survey Maret 2007 dari 1.240 responden).

Namun, dari segi sentimen keagamaan, ternyata masih lebih kuat dari sentimen kebangsaan. Sejumlah 53,9 persen responden lebih bangga disebut sebagai orang Islam, Kristen, Hindu, Buddha, atau Konghucu, ketimbang disebut sebagai orang Indonesia (45 persen). Ini hasil survey Maret 2007 dari 1.240 responden.

Soal mempertahankan keutuhan negara dari ancaman disintegrasi, berdasarkan survey Maret 2007 dari 1.240 responden, ternyata 85,5 persen menunjukkan dukungan yang kuat pada keutuhan negara. Mereka tidak setuju jika salah satu daerah lepas dari Indonesia. Di antara responden yang menolak lepasnya daerah mana pun dari Indonesia ini, 77,4 persen menyatakan bersedia ikut berperang mempertahankan keutuhan republik Indonesia. Hanya 21,9 persen yang menjawab “tidak bersedia.”

Dalam bidang ekonomi, nasionalisme itu juga ditunjukkan secara tegas. Pada survey April 2007 dari 1.680 responden, 53,7 persen responden menyatakan setuju dan sangat setuju, terhadap pernyataan “orang asing dilarang membeli perusahaan Indonesia.” Sebaliknya, sejumlah 30,3 persen tidak keberatan terhadap penjualan perusahaan Indonesia ke pihak asing. Sedangkan 16 pesen sisanya tidak bersikap.

Soal mengutamakan produk dalam negeri, 43,4 persen menyatakan setuju dan sangat setuju, untuk membeli produk dalam negeri ketimbang produk luar negeri, meski dengan harga produk dalam negeri yang lebih tinggi. Sejumlah 37,7 persen menyatakan tidak setuju dan sangat tidak setuju pada sikap tersebut. Sedangkan 18,9 persen sisanya tidak bersikap. Ini hasil survei April 2007 dari 1.680 responden.

Nah, sekarang tinggal apa yang akan kita lakukan berdasarkan hasil survei ini? Apakah Pemerintah akan menggenjotnya lebih lanjut, dengan kampanye membeli produk dalam negeri untuk menghemat devisa, sekaligus menghidupkan industri dalam negeri, dan memberi lapangan kerja? Semua itu adalah bentuk rasa cinta kita terhadap merah putri bukan sekedar perkataan “Saya Merah Putih” tetapi diperlukan penghayat sehingga dapat mewujudkan cita-cita luhur para pahlawan bangsa ini.

Nah, jika ini programnya, tentu harus dimulai dari para petinggi dan pejabat pemerintah sendiri, apakah mereka lebih suka periksa kesehatan di Singapura, pakai sepatu buatan Italia, naik mobil BMW, dan sebagainya? Bagaimana saya merah putih semantara pejabatnya abu-abu seperti saat ini? naif bukan?

Lalu, apakah para pejabat juga masih bersemangat tinggi untuk menjual BUMN-BUMN kita yang strategis ke pihak asing, Pemerintah ngotot, agar pabrik baja Krakatau Steel juga akan dijual ke Mittal, meski KS ini dalam posisi menguntungkan dan berkembang baik, dengan pasar yang masih terbuka lebar pula? Wouw ! mengerikan aset-aset mulai tergadaikan secara perlahan saat ini.

Lalu, merujuk survei dari Lembaga survei Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) baru saja merilis hasil survei yang melihat hubungan antara NKRI dan ISIS. Terungkap bahwa paham fundamentalis dan nasionalis dapat menjadi penentu berhasil masuk atau tidaknya ISIS ke Tanah Air.

Menurut, Prof Saiful Mujani, kategori aspek nasionalis ini ditandai dengan rasa bangga terhadap Indonesia, yang dapat menjadi tameng masuknya paham radikal seperti ISIS. Orang yang tidak bangga dengan Indonesia dia cenderung menerima ISIS. Orang mungkin menerima ISIS karena tidak bangga menjadi warga negara Indonesia. Sehingga ISIS punya hubungan dengan fundamentalis yang cenderung berhubungan.

Sebanyak 62,5 persen masyarakat Indonesia sangat bangga menjadi warga negara Indonesia dan 36,5 persen yang mengatakan cukup bangga. Dengan demikian, dapat dikatakan hampir semua warga bangga menjadi orang Indonesia. Aspek nasionalis ini juga terlihat dari kesiapan warga Indonesa untuk menjadi relawan menjaga keutuhan NKRI. Sebanyak 26,9 persen sangat bersedia dan 57,6 persen bersedia untuk membela keutuhan NKRI.

Tidak hanya itu, tingginya rasa cinta warga terhadap Tanah Air ini juga membuat masyarakat Indonesia percaya bahwa NKRI tidak lantas menjadi lemah dengan adanya ancaman teror ISIS. Bahkan hasil survei menyebut, 57,4 persen masyarakat Indonesia tidak setuju jika saat ini NKRI menjadi lemah dan terancam bubar dengan adanya isu-isu memudarnya nilai Pancasila dalam masyarakat.

Sebaliknya, hanya 12,6 persen warga Indonesia yang mengatakan kekuatan NKRI sedang goyah dan melemah. Kebanyakan tidak masalah dan jangan takut, ada yg cemas sekitar 12 persen. Tapi kita tidak bisa mengabaikan 60 persen tersebut yang optimistis. Kecemasan ini bukan menolak NKRI, justru dia khawatir, mungkin dia kritis tidak menerima begitu saja.

Hanya 14,5 persen warga Indonesia yang merasa NKRI dalam bahaya. Selebihnya masih optimistis, NKRI masih negara besar dan kuat yang mampu menghadapi segala ancaman perpecahan. Terbukti setelah adanya bom di Kampung Melayu beberapa waktu lalu, yang terjadi justru masyarakat malah asik berfoto di sekitar lokasi kejadian.

Angka survei ini menjadi angka-angka korelasi sebagai catatan ilmiah semata ataupun sebagai pedoman dan panduan dalam bentuk ilmu pengetahuan untuk membedah kondisi Indonesia yang semakin kritis dan mengerikan saat ini. Bukan tidak mungkin dibalik kenyataannya berbeda dengan apa yang diutarakan secara ilmiah. Kacamata ini berbeda dengan kecamata lainnya di mana kenyataannya bangsa ini dalam kondisi yang sangat memprihatikan.

Bendera Merah Putih terus berkibar di langit Laskar Merah Putih di Pulo Kepayang- Bangka Belitung.[Foto: Mhd Darwinsyah Purba]
Sebenarnya bukan Pancasila saja yang menjadi harga mati. Merah Putih pun menjadi harga mati dalam menentukan masa depan. Bagaimana anak negeri dapat berteriak: “Saya merah putih” yang berarti mencintai NKRI dan Pancasila serta menjunjung tinggi Kebhinekaan Tunggal Ika sampai akhir hayatku sehingga tiada lagi kata perbedaan yang ada hanya “Saya merah putih !!!” Bagaimana dengan anda ???/

Menurut Pengamat Ekonomi Sumut, Gumawan Benyamin diri menilai globalisasi memang membuat masyarakat tidak hanya di Indonesia maupun di Negara lain yang menjunjung tinggi kebebasan secara personal. Banyak generasi sekarang yang kurang begitu menghargai simbol-simbol negara, dan cenderung menjadikan materi sebagai tolak ukur kehidupannya.

Padahal tanpa ada negara, sulit mengharapkan adanya tatanan kehidupan manusia yang tertaur dan beradab. Akan tetapi itulah problematika kmasyarakat belakangan ini. Ditambah lagi dengan akses informasi yang sangat mudah dari belahan dunia manapun, membuat orientasi atau cara pandang masyarakat kebanyakan kerap melupakan esensi dasar dari suatu bangsa.

Globalisasi cenderung membuat kita melupakan adat istiadat, landasan Negara dan lebih berorientasi kepada pemuasan alat kebutuhan hidup. Jadi memang wajar jikalau kita meragukan anak zaman sekarang mencintai NKRI. Rutinitas kehidupan sehari-hari ditambah dengan gaya hidup yang cenderung hedonis, ditambah dengan pelajaran kebangsaan yang hanya diterapkan di sekolah.

Maka pertanyaan selanjutnya bagaimana caranya kita mencintai NKRI. Saya yakin tidak sedikit yang menilai bahwa hidup di suatu negara dengan nasib yang kurang baik akan membuat mereka menyalahkan negaranya sendiri. Tidak hanya di Indonesia, saya yakin ini juga dialami oleh banyak negara.

Dan pada prakteknya, kehidupan kita itu banyak menerima input informasi diluar nilai-nilai kebangsaan. Seperti lagu cinta atau lagu luar dibandingkan dengan lagu kebangsaan. Masyarakat kita lebih banyak mengkonsumsi hal-hal yang berbau materalistis dibandingkan rasa cinta tanah air atau lingkungannya sendiri.

Jadi memang perlu menumbuhkan rasa cinta tanah air tersebut saat ini. Salah satunya selain diajarkan di sekolah terkait dengan nilai-nilai kebangsaan. Masyarakat seharusnya juga sudah diwajibkan untuk ikut wajib militer sehingga menumbuhkan rasa cinta terhadap tanah airnya.

Menurut Ketua AJI (Aliansi Jurnalis Indonesia), Medan, Agus Perdana mengungkapkan makna Merah Putih perpaduan antara warna merah yang melambangkan keberanian, dan putih yang melambangkan kesucian dapat diejawantahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dimana segenap elemen bangsa harus menjadi jiwa-jiwa pemberani dengan hati yang suci, meneruskan perjuangan pahlawan bangsa dengan mengisi kemerdekaan sesuai peran masing-masing dalam membangun negara.

Generasi muda haruslah memberikan yang terbaik bagi bangsa, dalam bentuk kegiatan-kegiatan positif yang terutama bertujuan untuk menjaga semangat kemerdekaan dengan menorehkan prestasi di berbagai bidang.

Generasi zaman now Indonesia dapat dikatakan cukup baik dal menjaga semangat merah putih. Hal ini dibuktikan dengan banyak munculnya sosok-sosok muda yang berprestasi dalam berbagai bidang, baik di dalam negeri maupun diluar negeri. Hal ini tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi bangsa Indonesia.

Pada kenyataannya lagu-lagu bertemakan semangat kebangsaan masih mengisi ruang2 dalam kegiatan kepemudaan. Sekarang tinggal bagaimana kemasan dan komposisinya, disesuaikan dengan selera musik generasi zaman now. Harapannya agar generasi zaman now tetap menjaga semangat kemerdekaan dan meneruskan perjuangan para pahlawan bangsa dengan menjadi generasi pemimpin masa depan.

Merah putih sebagai bendera Indonesia memiliki makna filosofis. Merah berarti keberanian, putih berarti kesucian. Merah melambangkan raga manusia, sedangkan putih melambangkan jiwa manusia. Keduanya saling melengkapi dan menyempurnakan jiwa dan raga manusia untuk membangun Indonesia.

Menurut Ketua DKSU (Dewan Kesenian Sumatera Utara), Baharuddin Saputra mengatakan warna merah dan putih juga memiliki makna filosofis yang begitu dalam. Seperti yang dikutip perkataan Soekarno memiliki jawabannya. “Warna-warna itu tidak begitu saja diputuskan untuk Revolusi. Warna-warna itu berasal dari awal penciptaan manusia. Matahari berwarna merah. Bulan berwarna putih,” kata Soekarno seperti ditulis Cindy Adams dalam biografi Soekarno, Penyambung Lidah Rakyat. Warna merah dan putih bendera Indonesia ternyata memiliki makna yang begitu dalam.

Bendera Pusaka dijahit oleh istri Soekarno yaitu Fatmawati. Menurut penuturan Sukmawati Sukarnoputri, saat sedang menjahit bendera pusaka tersebut, Fatmawati menitikkan air mata. Ia terisak dan begitu teraharu karena tak mempercayai pada akhirnya Indonesia akhirnya merdeka serta memiliki bendera dan kedaulatan sendiri.

Indonesia kini memang sudah merdeka tapi perjuangan akan terus berlanjut. kita isi kemerdekaan ini dengan hal-hal yang bermanfaat dan memajukan tanah air kita bersama. Dengan menanamkan dan memperkenalan nilai-nilai budaya bangsa nusantara.

Menurut Manager Hotel LJ Medan, Iwan Wahyudi mengatakan generasi sekarang kurang memaknai merah putih terutama warga kota namun warga pedesaan sangat menghargai merah putih sebagai jati diri bangsa ini. Generasi zaman now lebih cengeng terimbas dari lagu dan budaya asing yang masuk ke negara ini. Sebaiknya kurikulum pelajaran dikembalikan seperti era orde baru karena kondisi pendidikan saat ini tidak memiliki patron yang jelas sehingga tunas bangsa bisa kehilangan rasa nasionalismenya.

Sejak dini harus ditanamkan kecintaan kepada NKRI baik dari keluarga, lingkungan sekitar dan sekolah dalam mengunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari.

 

Caleg PSI (Partai Solidaritas Indonesia), Waliyono mengutarakan bendera Indonesia memiliki makna filosofis. Merah berarti keberanian, putih berarti kesucian. Merah melambangkan raga manusia, sedangkan putih melambangkan jiwa manusia. Keduanya saling melengkapi dan menyempurnakan jiwa dan raga manusia untuk membangun Indonesia.

Ditinjau dari segi sejarah, sejak dahulu kala kedua warna merah dan putih mengandung makna yang suci. Penjelasan : Warna merah mirip dengan warna gula jawa (gula aren) dan warna putih mirip dengan warna nasi. Kedua bahan ini adalah bahan utama dalam masakan Indonesia, terutama di pulau Jawa.

Ketika Kerajaan Majapahit berjaya di Nusantara, warna panji-panji yang digunakan adalah merah dan putih (umbul-umbul abang putih). Sejak dulu warna merah dan putih ini oleh orang Jawa digunakan untuk upacara selamatan kandungan bayi sesudah berusia empat bulan di dalam rahim berupa bubur yang diberi pewarna merah sebagian. Orang Jawa percaya bahwa kehamilan dimulai sejak bersatunya unsur merah sebagai lambang ibu, yaitu darah yang tumpah ketika sang jabang bayi lahir, dan unsur putih sebagai lambang ayah.

Wirna Agus Siswanti, Mahasiswa Pasca Sarjana UMSU mengatakan makna merah putih adalah untuk menjadi identitas bangsa kita. Merah berarti berani, putih berarti suci. Kita harus berani namun juga harus suci. Jangan berani dengan ketidaksucian atau kepalsuan. Atau kita juga harus suci dengan keberanian, jangan hanya bersembunyi. Keduanya harus berimbang. Jadi jangan sok berani dan sok suci. Harus berani dengan suci. Harus suci dengan berani.

Makna merah putih adalah juga menjadi alat pemersatu kita. Dimanapun kita berada, misal di luar negeri, pasti akan senang melihat ada bendera kita disana. Menandakan ada orang Indonesia disana, dan kita bisa bersatu lewat bendera itu. Simple tapi berharga.

Merah putih bila dinaikan di tiang manapun pasti akan terus berkibar. Walau dia terkena hujan, panas, badai, dingin, dan semua unsur cuaca yang ada, saat dia terkena angin bendera kita akan terus berkibar saudaraku.

Berkibarnya adalah untuk kita, rakyat Indonesia. Indonesia ini diwakili dengan ibu pertiwi, lalu bendera merah putih ini adalah baju dari ibu peritiwi. Kemanapun kita pergi dan hilang, mudah sekali cara kita untuk kembali, kembali lah kepada ibu peritiwi yang berbaju merah putih.

Memang banyak isu perpecahan yang digoreng pada tahun 2016, merah putih tetap berkibar saudaraku. Banyak orang yang ingin menonjolkan identitasnya masing-masing dengan merendahkan identitas orang lain, merah putih tetap berkibar saudaraku.

Meskipun banyak juga intervensi dari negara asing yang mau menggoyahkan tanah dimana kita memijakan kaki dan mencari nafkah, merah putih tetap berkibar saudaraku. Merah putih tetap berkibar di langit Indonesia, merah putih tetap berkibar dihati orang yang mengaku dirinya rakyat Indonesia. Merah putih akan membangkitkan memori kesatuan kita.

 

Related Posts

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Theme Settings

Please implement Expnews_Options_menu_location_multi_select::getCpanelHtml()

Please implement Expnews_Options_multi_select::getCpanelHtml()