Meneropong Bisnis Wisata Kampung Cinangneng (Bagian 2)

Meneropong Bisnis Wisata Kampung Cinangneng (Bagian 2)

Siapa sangka, Kampung Cinangneng yang jauh dari pusat Kota Bogor berhasil menjadi destinasi wisata edukasi primadona. Kesederhanaan masyarakat, kearifan budaya lokal, serta keindahan alamnya merupakan modal utamanya.

Pada 1990’an, kampung ini sama seperti kebanyakan kampung lainnya. Warga mengantungkan kehidupannya dari kerajinan rumahan seperti keset kain perca, obor batok kelapa dan bertani.

Menjelang tahun 2000’an, kehidupan mereka mulai berubah seiring dibukanya Kampung Wisata Cinangneng oleh Hester Basoeki. Pemandu wisata, guru menari, membuat wayang, hingga mengajarkan membuat kue dan minuman khas menjadi pekerjaan baru mereka.

Ide kampung wisata ini muncul saat Hester bertemu dengan Menteri Pariwisata Marzuki Usman saat berkunjung ke guest house miliknya. Sebab, saat itu, dia dianggap berhasil mendatangkan wisatawan saat kondisi politik Indonesia sedang tidak stabil akibat kerusuhan tahun 1998.

Kegiatan yang ditawarkan adalah mengunjungi perkampungan yang ada di seberang penginapannya. “Saat itu, saya berpikir apa yang harus dibuat. Akhirnya, saya bilang ke Pak Menteri apakah setuju lokasi ini dibuat kampung wisata dan beliau 200% mendukung,” katanya.

Selang beberapa bulan, mantan Menteri Pariwisata era pemerintahan Presiden Soeharto ini memberikan seperangkat gamelan sunda kepadanya. Hadiah itu mendorong perempuan berparas ayu ini mengajak warga bekerjasama memajukan lokasi.

Lantaran sudah terbentuk hubungan baik dengan warga, Hester pun tak sulit mengajak mereka berembuk untuk memberikan ide dalam disain aktivitas wisatawan.

“Semua program yang ada di paket Poelang Kampoeng itu adalah hasil dari usulan mereka,” jelasnya. Tak berhenti disana, warga pun ikut dilibatkan dalam hal keamanan dan seluruh tetek bengeknya. Asal tahu saja, sebagian besar karyawan tetap maupun musiman adalah warga kampung tersebut.

Setelah secara resmi Kampung Wisata Cinangneng meluncur, para pengunjung pun mulai berdatangan. Ada 100 orang rombongan pertama yang datang kesana. Meksi insfrastruktur masih terbatas, Hester dibantu oleh warga bersama-sama menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut kunjungan tamu pertamanya.

Perlahan namun pasti, dia terus membenahi infrastruktur guest house miliknya dari masukan dan keluhan para tamu. Selain itu, dia juga mendatangkan sejumlah mentor untuk melatih warga yang akan membantunya menjalankan usaha. “Bekerjasama dengan warga itu artinya posisi mereka sama, mereka adalah mitra,” tegasnya.

Meski hanya berbekal pengalamannya menjadi pemandu wisata selama 10 tahun, Hester tidak menemukan kendala yang berarti dalam menjalankan usahanya bersama warga. Sekedar info, melihat pemandangan Gunung Salak, anak sungai dengan segala aktivitas penduduk desa memberikan ide untuknya bila lokasi tersebut bakal disukai oleh wisatawan.

Dengan berbekal satu kamar di rumah pribadinya, dia memberanikan diri untuk menawarkannya kepada wisatawan. Hasilnya, tamu pun merasa puas karena keindahan dan pengalamannya dapat bertemu dan berinteraksi dengan warga setempat.(kontan)

(Bersambung)

Related Posts

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Theme Settings

Please implement Expnews_Options_menu_location_multi_select::getCpanelHtml()

Please implement Expnews_Options_multi_select::getCpanelHtml()