Ribuan Masyarakat Nobar Film Kekejaman PKI di Kampung Kolam

MEDAN|Ribuan masyarakat bersama organisasi masyarakat (Ormas) Pemuda Pancasila nobar film kekejaman pemberontakan gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia atau G30S/PKI dan memperingati hari Kesaktian Pancasila, pada Sabtu (30/9/2017) Malam, di Kampung Kolam, Kecamatan Percut Seituan, Kebupaten Deliserdang, Sumatera Utara.

Selain mengadakan acara nonton bareng pemutaran film PKI dan menyambut hari Kesaktian Pancasila, para kader ormas ini juga melakukan renungan suci dan pembagian sembako gratis bagi warga kurang mampu yang tinggal diwilayah Kampung Kolam.

Diawali dengan upacara dilokasi dimana dua pahlawan dari organisasi Pemuda Pancasila atas nama M Jacop dari PP dan Adlin Prawiranegara dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang wafat saat melakukan penumpasan antek-antek PKI di wilayah Sumatera Utara.

Dalam renungan suci diceritakan Kampung Kolam pernah menjadi basis anggota PKI saat itu. Ada sekitar 500-an anggota PKI di daerah ini, yang hampir seluruhnya berprofesi sebagai petani.

Hampir sekitar 85 persen penduduk di kampung tersebut saat itu merupakan anggota PKI, dimana mayoritas mereka berasal dari tanah Jawa, tepatnya dari Ponorogo, Jawa Timur.

Hingga Pemerintah menetapkan PKI sebagai organisasi terlarang setelah peristiwa 30 September, dimana tujuh jenderal diculik dan dibunuh dengan tidak manusiawi oleh PKI.

Pemerintah langsung bergerak untuk melumpuhkan kekuatan PKI di semua daerah. Selain itu, pemerintah pusat juga memberikan instruksi kepada pemerintah daerah, yang saat itu dibacakan Wakil Ketua DPRD Sumut Abir Zudy Daulay, agar orang-orang PKI menyerahkan diri.

Namun orang-orang PKI di Kampung Kolam tetap dengan pendiriannya memegang ideologi komunisme. Hingga akhirnya ormas PP turun tangan melakukan pembersihan dengan dikomandoi oleh Ketua PP Medan, M Effendy Nasution atau biasa disapa Bang Pendi.

PP langsung bergerak menuju Kampung Kolam, dan mendatangi setiap warga yang diduga terlibat untuk diminta menyerah. Namun di lapangan, ternyata terjadi kesalahan komunikasi. Kelompok dari Pekan Tembung masuk duluan dan sudah ditunggu oleh anggota PKI di Jalan Sukmo.

Kontan mereka pun kocar-kacir. Dua diantaranya salah lari masuk ke kandang PKI. Akhirnya, mereka disiksa dan dibunuh. Dan ketika apel besoknya, baru disadari ternyata kurang dua orang.

Keduanya adalah M Jacop dari PP dan Adlin Prawiranegara dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Setelah disiksa dan dibunuh, keduanya dikuburkan di sebuah kebun sayur di antara Jalan Sukmo dan Jalan Rukun. Namun, karena dikubur terlalu dangkal dua hari kemudian mayat tersebut sudah mengeluarkan bau.

TNI bersama PP dan ormas lain pun langsung mengerahkan anggotanya untuk mencari kedua pemuda tersebut. Bahkan, salah seorang kakak ipar Adlin Prawiranegara yang bertugas di Kodam I Bukit Barisan berpangkat Peltu hampir setiap hari datang ke Kampung Kolam untuk mencari tahu dimana keberadaan keduanya.

Akhirnya lima hari kemudian, barulah mereka menemukan jenazah keduanya dalam keadaan mengenaskan di dalam parit tersebut, dengan diikat ke besi potongan rel kereta api, mereka ditenggelamkan di parit tersebut. Kemudian ditutupi dengan pelepah pohon pisang dan bangkai kambing yang sangat bau menyengat di atasnya untuk menghilangkan kecurigaan orang.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua MPW PP Sumut, Kodrat Shah mengatakan renungan suci selalu dilakukan tiap tahunnya untuk mengingat bagaimana kejamnya PKI terhadap orang-orang yang menjaga ideologi Pancasila.

“Kita tetap melakukan setiap tahunnya, agar masyarakt sekitar waspada terhdap komunis. Karena dimanapun tidak ada tempatnya komunis. Karena mereka tidak mengakui agama apapun, dan mereka telah berbuat sadis untuk dua orang anggota Pemuda Pancasila,“ kata Kodrat Shah sekitar pukul 01.00 WIB dinihari di Kampung Kolam.

“Pemuda Pancasila itu harus kita kenang, karena PP dilahirkan oleh ABRI waktu itu. Untuk berhadapan dengan yang namanya Pemuda Rakyat, dan itu telah kita lakukan. Smapai hari ini kader PP siap terdepan untuk menghadapi bangkitnya komunis,” tambahnya.

Selain itu, Pangkosek Hanudnas III Medan, Marsama TNI Tri Bowo Budi Santoso mengatakan yang terpenting buat kita semua masyarakat luas yang tidak sempat menyaksikan secara langsung, bisa mengikuti karena sejarah yang tadi dibacakan saat
renungan suci sangat memilukan bagi kita semua.

“Tokoh-tokoh Pemuda yang baru harus lebih waspada terhadap bahaya laten komunis yang ada di Indonesia, khususnya Sumut. Mudah-mudahan kegiatan malam ini sambil mendoakan para pahlawan,“ kata Tri Bowo.

“Semangat kita untuk membangun dan mempertahankan Pancasila dan memberantas komunisme atau bangkitnya kembali PKI dapat kita waspadai lebih dini,“ Pungkas Tri Bowo.

Related Posts

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Theme Settings

Please implement Expnews_Options_menu_location_multi_select::getCpanelHtml()

Please implement Expnews_Options_multi_select::getCpanelHtml()