Bah! Kebijakan Biaya Isi Ulang E-Money Perangkap Bagi Nasabah

JAKARTA|Rencana Bank Indonesia mengizinkan bank penerbit membebankan biaya isi ulang uang elektronik menuai kritik. Kebijakan tersebut, juga dinilai sejumlah pengamat seperti perangkap bagi nasabah.

Direktur Eksekutif Indef, Enny Sri Hartati mengungkapkan, pengenaan biaya isi ulang sangat tidak tepat, terlebih perbankan sudah mendapatkan dana murah dari masyarakat yang tak lagi menyimpan uangnya di rekening bank, sehingga bank tak perlu mengeluarkan bunga.

Selain itu, rencana pengenaan biaya isi ulang uang elektronik sangat tidak melihat kondisi masyarakat saat ini, di mana jumlah Rp1.500 hingga Rp2.000 yang diusulkan industri perbankan cukup berat bagi masyarakat menengah bawah.

“Sistem kebijakan ini harus melihat kondisi masyarakat, bukan dilihat jumlahnya,” tegas Enny kepada VIVA.co.id.

Ia mengungkapkan, selain tak melihat kondisi masyarakat, kebijakan biaya isi ulang juga tak menyentuh aspek keamanan dan keadaan ekonomi orang kecil. Sebab, tak semua orang menyimpan uang dalam e-money dalam jumlah besar.

“Karena konsekuensinya kalau hilang, kalau keplintut itu uangnya hilang. Selain itu, e-money bisa dipakai orang lain juga,” ungkapnya.

Dengan demikian, lanjut Enny, e-money ini beda dengan ATM fungsinya, karena ATM uangnya masih tersimpan, sedang e-money tidak. Sehingga, konsekuensinya top up akan sedikit-sedikit dan bagi orang kecil, tentu merugikan, karena dipaksa lakukan transaksi lebih banyak dan sulit ada lagi transaksi tunai.

“Artinya, orang kan semakin sering melakukan top up jadi berarti kan ini desain kebijakan yang memasang perangkap,” ujarnya. [viva]

Related Posts

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Theme Settings

Please implement Expnews_Options_menu_location_multi_select::getCpanelHtml()

Please implement Expnews_Options_multi_select::getCpanelHtml()