Herini “Perupa Kampung” yang Berani Ikut Pameran

TRANSBISNIS|Herini namanya. Wanita asal Dagen RT 3, Desa Pendowoharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul ini menjadi ibu rumah tangga setiap harinya. Namun, perempuan berusia 43 tahun ini memiliki kemampuan sebagai perupa.

Tiga karya seni hasil karyanya dipamerkan bersama hasil seni milik Paguyuban Seni Imogiri, Dlinggo, dan Jetis (Sidji) di Jogja Galeri mulai 1 Agustus 2017 sampai 10 Agustus 2017.

Ya, Herini merupakan satu dari 24 perupa berlabel ‘kampung’ yang menjadi anggota Paguyuban Sidji. Latar belakangnya yang hanya sebagai IRT tak menyurutkannya untuk bisa menghasilkan karya seni.

Lukisannya dibuat dengan menggunakan teknik yang tak mudah dilakukan. Ia memakai teknik drawing dan menggunakan pensil sebagai alat melukisnya.

“Pensilnya yang 7 B sama 8 B. Tekniknya pakai arsir dan brush kuas. Teknik itu saya lakukan berulang-ulang supaya padat, menyerap ke pori-pori kanvas,” kata Herini di Jogja Galeri, Jalan Pekapalan, Kelurahan Prawirodirjan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta, Selasa (1/8/2017).

Tiga karya miliknya yang dipamerkan di Jogja Galeri itu masing-masing memiliki judul. Antara lain Matahari di Kathulistiwa I, Matahari di Kathulistiwa II, dan Kontras.

Menurut Herini, dua karyanya yang berjudul Matahari di Kathulistiwa itu terinspirasi dari karya seni milik Anggit Purwoto.

“Saya lihat lukisan Mas Anggit soal anak-anak SD Sungkung 4. Terus saya mengabadikan anak-anak itu lewat drawing saya. Saya juga sudah izin dengan Mas Anggit, hasil karya saya juga diposting di Instagram Mas Anggit,” kata Herini.

Dia mengaku sempat meneteskan air mata ketika menggarap dua karyanya tersebut. Bukan tanpa sebab, batinnya tersentuh ketika melihat penampilan anak-anak yang terlukis di karya milik Anggit Purwoto itu.

Menurut dia, kondisi anak-anak yang terlukis itu menunjukkan semangat sila kelima Pancasila belum merata di Indonesia.

“Kondisi itu juga berbeda jauh dengan yang di kota. Di lukisan itu, anak-anak tetap sekolah walau tidak pakai sepatu. Di kota, seragam beda saja sudah tidak mau sekolah,” tutur Herini.

Untuk karya berjudul “Kontras”, lanjut Herini, terinpirasi dengan kehidupan perempuan saat ini. Di karyanya itu, ia melukis seorang wanita tua membawa barang bawaan di atas kepalanya. Di belakang wanita tua itu terlihat sejumlah wanita yang berpakaian minim dan tampil modis.

“Di tengah banyaknya wanita yang menjadi kaum hedon, masih ada simbok yang bertahan dengan kondisinya dan apa yang dilakukannya,” ucap Herini.

Dia menuturkan, proses pengerjaannya memang membutuhkan waktu yang lama. Untuk membuat tiga karya seni itu, dia membutuhkan waktu sekitar tiga bulan.

Herini mengatakan, proses pengerjaan mulai dari menyiapkan kanvas sampai finishing itu dilakukannya sendiri.

“Masing-masing lukisan itu paling tidak menghabiskan lima batang pensil,” kata dia.

Dari Facebook

Menjadi perupa ternyata bukan hal baru yang digeluti Herini. Ia mengaku sudah setahun terakhir berkecimpung di dunia pameran. Selama setahun, dia sudah mengikuti sejumlah pameran sebelum bergabung dengan Paguyuban Sidji.

Setidaknya, dia sudah mengikuti lima pameran yang digelar Juni 2016 sampai saat ini.

“Awal saya coret-coret lagi itu pada 2012 itu pun di kertas, saya sering posting di Facebook. Terus sering lihat pameran teman-teman kemudian berbaur. Ada rasa ketidakpercayaan diri karena dunia seni rupa sekarang berkembang, mental saya belum siap waktu itu,” ujar Herini.

Selama tiga tahun terakhir, Herini hanya bisa mengapresiasi karya teman-temannya. Barulah pada April 2016, dia memutuskan untuk membuat sketch on the spot di Sanggar Bambu. Dari keberaniannya itu, dia akhirnya serius dan fokus sebagai perupa.

“Dulu saya ikut pameran secara on the spot. Waktu saya membuat sketsa di Sanggar Bambu, kemudian langsung diajak ikut pameran,” kata Herini.

Belakangan diketahui, Herini ternyata memiliki kemampuan melukis sejak lama. Ia merupakan lulusan sekolah menengah seni rupa (SMSR) di Yogyakarta.

Di SMSR, dia mengenal teknik melukis dasar yang saat ini terus dikembangkannya untuk mensukseskan impiannya menjadi perupa asal DIY.

“Teknik yang saya pakai ini tidak didapat di sekolah tapi saya latihan terus,” ucap Herini.

Dia pun akhirnya memutuskan bergabung dengan Paguyuban Sidji.

“Di Paguyuban Sidji, saya ingin bisa lebih mengenalkan pecinta seni rupa bahwa drawing pencil bisa diterima dengan baik, tidak kalah dengan teknik atau media lain,” kata dia.(kompas/dok)

Related Posts

LEAVE A COMMENT

Make sure you enter the(*) required information where indicated. HTML code is not allowed

Theme Settings

Please implement Expnews_Options_menu_location_multi_select::getCpanelHtml()

Please implement Expnews_Options_multi_select::getCpanelHtml()