PENCARIAN KHUSUS

AGENDA KITA

January 2010
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
www.buanaciptapustaka.com-edit PICTURE Studio Iklan_AnaTekstil_OK DEE_Catering_OK IKLAN_TRANSBISNIS

Men Quotes On Women

Woman is the companion of man, gifted with equal mental capacity.
Mohandas K. Gandhi
Quotes from Da Vinci's Muse

Produk SMART Telecom
Code Belanja K1-AF9Y88-X
di KutuKutuBuku.com

RUMAH JAHIT ARUM DI TENGAH MARAKNYA PRODUK IMPOR

Wednesday, January 13, 2010
By goesfy

S5002979TRANSBINIS, Purworejo – Masyarakat Indonesia kini tak asing lagi dengan produk-produk impor. Terutama produk dari Cina. Sebut saja beberapa produk elektronik seperti kamera digital, handphone dan lain sebagainya dengan fasilitas yang makin canggih. Tentu saja ini sangat berpengaruh pada ekonomi nasional. Padahal Pemerintah Indonesia terus menggalakkan slogan “ Cintailah Produk Dalam Negeri”, namun slogan ini hanya slogan saja, tak berimbas pada menurunnya tingkat pembelian terhadap produk Cina tersebut.  Ini dikarenakan harga yang jauh berbeda, maka mau tidak mau produk dalam negeri cenderung sedikit peminatnya.

            Hal ini juga terjadi pada produk-produk lain seperti tas dan pakaian. Dengan harga yang lebih rendah konsumen sudah bisa mendapatkan produk yang cukup berkualitas. Tak hanya dari segi kualitas, modelnyapun selalu yang terbaru.

            Namun hal ini tidak begitu berpengaruh pada Rumah Jahit ARUM. Usaha jahit pakaian milik Rumiyati ini tetap ramai oleh para pelanggannya. Mereka tak hanya dari masyarakat sekitar, namun malah lebih banyak dari konsumen luar yang kebanyakan para guru dan pegawai. Selain hasil jahitannya yang cukup bagus, mbak Atik begitu panggilan akrabnya, juga tak segan-segan memberikan garansi untuk pakaian yang dijahit kepadanya. “Kalo masih ada yang kurang sreg atau kurang pas dibawa kesini aja”, begitu ungkap lulusan SMKK Purworejo tahun 2001 ini. Ia membuka usaha di belakang kompleks asrama 412 sejak empat tahun lalu. Sebelum membuka usaha sendiri ketrampilannya sudah terasah dengan bekerja di rumah jahit di dekat SMP 4 Purworejo selama tiga tahun.

Meski pelanggannya cukup banyak, mbak Atik tak segan-segan menerima permak pakaian. Mungkin itu yang membuat para pelanggan lebih nyaman dan tertarik untuk menjahitkan pakaian ke penjahit kelahiran tahun 1983 ini. “Meski hanya permak, kita tidak boleh menolaknya karena itu juga rejeki”, begitu ungkapnya lagi. Dia pun tak memasang tarif terlalu tinggi, standar saja. Hanya dengan enam puluh ribu rupiah kita sudah bisa mengenakan pakaian yang tak kalah bagus dengan garapan penjahit bertarif mahal. Dia cukup telaten dalam melayani para konsumennya.

Rumah jahitnya agak jauh terlihat lebih ramai jika bulan puasa dan tahun ajaran baru tiba. Ini juga berpengaruh pada penghasilannya. Untuk bulan-bulan biasa saja penghasilannya mencapai kurang lebih Rp 1.250.000,00 perbulan. dan untuk bulan-bulan tertentu penghasilannya bisa mencapai Rp 1.600.000,00 perbulan. Angka yang cukup fantastis untuk ukuran penjahit di kota kecil seperti Purworejo ini. Dengan begitu dia mampu membantu menopang kebutuhan keluarga yang semakin tinggi. Itu yang membuat dia bangga dan tetap menekuni pekerjaan ini. Selain itu sekarang ia mampu membayar cicilan motornya.

Memang membuka usaha pelayanan/jasa seperti ini gampang-gampang susah. Dianggap gampang karena hasilnya cukup lumayan untuk bulan-bulan tertentu dan jika sudah punya pelanggan tetap. Namun hal itu bisa terjadi sebaliknya jika kita tidak memperhatikan keinginan pelanggan kita. Kita harus siap menerima komplain dari pelanggan kita. Apalagi untuk konsumen yang sedikit rewel, ada saja alasan yang tidak masuk akal yang mereka ungkapkan, tapi tetap saja diterima dengan baik olehnya. “Itu sebagian dari servis saya mbak….“ begitu sambungnya menutup percakapan kami.

(Koresponden : Rina Sofiana – D3 Adm. Bisnis Politeknik Sawunggalih Aji Kutoarjo)

Leave a Reply