SENSASI KAYU DI WAROENG KAJOE “ST”
TRANSBISNIS, Banyuurip – Kebutuhan akan perumahan, bangunan maupun meubelair di Purworejo, tidak lepas dari bahan baku berupa kayu. Penggunaan kayu sangatlah diminati oleh segala lapisan masyarakat. Bahan baku kayu relatif mudah didapat, mudah diubah dan dikerjakan serta harganya relatif murah. Disamping itu sifat fisik kayu bertentangan dengan sifat fisik logam. Peluang inilah yang ditangkap Eko Pujo Basuki lima tahun silam. Pilihannya adalah mendirikan ”Waroeng Kajoe ST”.
Waroeng Kajoe ST yang berdiri sejak 2004, terletak di Desa Kledung Karangdalem RT 03/RW 01 Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo. Tepatnya di sebelah barat SMP N 15 Purworejo. Toko atau warung ini menyediakan berbagai kebutuhan perumahan yang terbuat dari kayu. Industri ini berkonsentrasi pada pengolahan kayu beserta diversifikasi produknya. “Dalam pengelolaannya dibagi menjadi 2 macam produk, yang pertama pelayanan kayu konstruksi dan pelayanan furniture,” ujar Eko – sapaan akrab pemilik Waroeng Kajoe ST.
Jenis kayu yang digunakan rata-rata kayu local. Kayu-kayu ini persebarannya ada di wilayah Pulau Jawa, seperti Sonokeling (Dalbergia latifolia), Sungkai (Paronema canescen), Suren (Toona sureni), dan lain-lain. Pemasarannya pun hanya melayani paket lokal yakni kalangan masyarakat menengah ke bawah. Sedangkan strategi pemasaran yang digunakan sama dengan para pedagang lainnya. Hanya saja Eko lebih memperhatikan beberapa aspek diantaranya tingkat sosial, kesukaan, dan SDM konsumen. Melakukan pameran merupakan agenda tetap Waroeng Kajoe ST. Hal ini dilakukan dengan maksud untuk memperkenalkan diri dan menawarkan produk ke khalayak umum. Daerah yang baru dimasuki yaitu DIY, Jawa Tengah, dan Jawa Barat.
“Pelayanan furniture kami berikan dalam 3 jenis paket pilihan yaitu: Paket Ekonomi, Paket Menengah, Dan Paket Ekspor. Ketiga jenis paket tersbut masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Faktor yang berpengaruh adalah jenis kayu dan sistem pengolahan sebelum dikerjakan,” jelasnya sambil menunjukkan ketiga paket produk tersebut.
Untuk meningkatkan kualitas produk, Eko melakukan kontrol kualitas atas pemilihan standart kualitas bahan baku (log kayu) dan sistem kontruksi pengerjaan. Selain itu juga model dan sistem finishing. Proses produksi dan pengendalian mutu produk yang dilakukan sama dengan standar perusahaan pengolahan kayu pada umumnya (pabrik).
Untuk 2010 Eko sudah mentargetkan untuk merambah produk seni kayu seperti patung, relief, ukiran, dan fosil wood. Untuk jenis produk ini mempunyai pasar tersendiri. Eko berharap segmen pasar kalangan atas bisa menerima.
“Permasalahan kayu masih sangat banyak yang perlu mendapat perhatian dan penyelesaian, terutama berkaitan dengan sifat-sifat kayu. Kami sampaikan kepada para konsumen untuk tepat dalam menentukan jenis kayu sesuai peruntukannya. Apabila ingin berbagi pengalaman dan pengetahuan mengenai kayu berkunjunglah ke tempat kami,” ajaknya ramah. (Dec ’09)
Koresponden: Hanung Tri Purwaningsih – D3 TI POLSA Kutoarjo









