DARI TEKNISI KE PRODUKSI SERABI
TRANSBISNIS, Kutoarjo – “Saya mulai dengan modal nol kecil. Dalam arti nol pengetahuan dan ketrampilan. Kata yang umum dipakai adalah ‘modal nekat’. Tapi saya yakin, upaya yang disertai tekad akan mendapat berkat dan selanjutnya menjadi nikmat” Berbagai profesi dan pekerjaan pernah dilakoninya, seperti tukang las, teknisi dan pernah juga coba-coba terjun di dunia advertising. Bahkan sebagai teknisi, Yoyok – sapaan akrabnya, mempunyai kualifikasi yang diakui oleh perusahaan perusahaan asing di bidang perminyakan dan pembangkit energi listrik.
Meski usianya tidak lagi muda untuk ‘banting setir’ alih profesi, bapak 2 anak ini tetap yakin dan bersemangat menjalankan usaha barunya yaitu berjualan serabi. Ketika ditanya soal pilihannya membuat serabi dan bukan jenis makanan lain yang lebih modern seperti roti misalnya, Yoyok berpendapat bahwa makanan tradisional mempunyai pasar yang relatif stabil. Kekuatan dari usaha ini adalah ke-khasan dan keunikannya. Pengalaman membuktikan bahwa makanan tradisional telah mendapat tempat tersendiri di masyarakat.
Serabi yang diproduksinya mempunyai penampilan seperti serabi Solo yang sudah cukup kondang di kalangan pencinta kuliner. Meniru? “Tadinya memang ingin meniru, tetapi saya tidak pernah bisa membuat persis seperti aslinya, makanya saya buat saja dengan ciri rasa tersendiri. Dan banyak orang mengatakan bahwa serabi buatan saya memang mempunyai rasa yang khas dan berbeda dari rasa serabi solo aslinya” Akunya sambil menjelaskan bahwa produknya diberi label “Serabiku”. Kependekan dari ‘Serabi Kutoarjo” melengkapi khasanah serabi yang beraneka macam tergantung asal daerahnya.
Bagi Yoyok, mencoba peruntungan ‘di lahan yang baru’ bukanlah sesuatu yang mudah. Memulai dengan membuat beberapa buah, gagal lalu mencoba lagi. Bahkan tidak hanya sekali dua kali produknya ditolak konsumen atau pedagang yang bermaksud dititipi.”Bayangkan, saya terbiasa dengan dunia masinal, hi-tech, tiba tiba berhadapan dengan kompor, wajan dan adonan. Kemudian menawarkan serabi dari satu warung ke warung lain. Tetapi itulah konsekwensi dari sebuah keputusan”, kata pelaku usaha serabi yang saat ini omset perbulannya mencapai 9 – 10 juta.
“Kemungkinan pengembangan bisnis semacam ini masih terbuka, saya sedang belajar aspek bisnis dan administrasi supaya mendapat fundamen usaha yang kuat” lanjut Yoyok yang juga tercatat sebagai mahasiswa DIII Administrasi Bisnis Politeknik Sawunggalih Aji Kutoarjo.“Saya juga belajar banyak dari usaha ini. Kesabaran, telaten, kerja mandiri dan yang pasti, saya belajar tidak menunggu gajian tiap bulan, tetapi mencari gaji sendiri”, ungkap Yoyok sambil berkelakar dengan Transbisnis. (Dec ‘09)









