GELIAT ‘TEMPE BUNGKUS’ DI MASYARAKAT PESISIR
TRANSBISNIS, Ngombol – Indonesia merupakan produsen tempe terbesar di dunia dan menjadi pasar kedelai terbesar di Asia. Sebanyak 50% dari konsumsi kedelai Indonesia dilakukan dalam bentuk tempe, 40% tahu, dan 10% dalam bentuk produk lain (seperti tauco, kecap, dan lain-lain). Konsumsi tempe rata-rata per orang per tahun di Indonesia saat ini diduga sekitar 6,45 kg.
Perhatian yang begitu besar terhadap tempe sebenarnya telah dimulai sejak zaman pendudukan Jepang di Indonesia. Pada saat itu, para tawanan perang yang diberi makan tempe terhindar dari disentri dan busung lapar. Menurut Onghokham, tempe dengan kandungan gizinya serta harga yang sangat terjangkau, menyelamatkan masyarakat miskin dari malgizi (malnutrition).
Perlu kita ketahui bahwa banyak sekali khasiat yang ada pada tempe. Tempe berpotensi melawan radikal bebas. Hal ini dapat menghambat proses penuaan dan mencegah terjadinya penyakit degeneratif. Penyakit itu antara lain aterosklerosis, jantung koroner, diabetes melitus dan kanker. Tempe juga mengandung zat antibakteri penyebab diare, penurun kolesterol darah, pencegah penyakit jantung dan hipertensi. Vitamin yang terkandung dalam tempe juga banyak. Ada dua kelompok vitamin terdapat pada tempe, yaitu larut air (vitamin B kompleks) dan larut lemak (vitamin A, D, E, dan K). Tempe merupakan sumber vitamin B yang sangat potensial. Jenis vitamin yang terkandung dalam tempe antara lain vitamin B1 (tiamin), B2 (riboflavin), asam pantotenat, asam nikotinat (niasin), vitamin B6 (piridoksin), dan B12 (sianokobalamin).
Pada saat ini produsen tempe masih cukup banyak dijumpai, bahkan di pelosok-pelosok Desa sekalipun. Salah satunya adalah Minah, warga Desa Jombang, Kecamatan Ngombol Kabupaten Purworejo. Minah yang berprofesi inti sebagai petani, memanfaatkan Tempe sebagai usaha untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dengan kesibukan sehari-harinya membuat tempe bungkus, Dia merasakan bahwa peluang usaha ini cukup bagus. Hanya dengan membayar Rp.1.000,00 konsumen sudah mendapatkan 5 bungkus tempe ukuran biasa.
Melalui usaha yang ditekuni puluhan tahun itu produk tempe Minah sangat diminati oleh warga sekitar dan warga luar desa. Setiap harinya Minah memproduksi tempe sekitar 600 bungkus dari 6 Kg kedelai. Selanjutnya tempe dijual di pasar setelah disisakan untuk untuk dipasarkan di rumah. Dari bisnis berbahan baku kedelai ini Minah bisa meraup omset per bulannya hingga Rp.3.000.000,00. “Harapan saya, ke depan usaha ini bisa berkembang menjadi besar dan terkenal”, ungkap Minah disela-sela kesibukannya.(Dec ‘09)
Koresponden : Sinta Worogati, DIII Teknik Informatika – POLSA Kutoarjo.









